Dikecam berbagai pihak karena menyinggung cadar dan azan dalam puisi 'Ibu Indonesia', Sukmawati pun angkat bicara.
- Tim WowKeren
- Selasa, 03 April 2018 - 11:42 WIB
WowKeren - Pembacaan puisi berjudul "Ibu Indonesia" yang dibawakan oleh Sukmawati Soekarnoputri menggemparkan dunia maya. Pasalnya, dalam puisi tersebut disinggung tentang penggunaan cadar dan lantunan azan yang menghiasi kehidupan masyarakat Indonesia.
Puisi tersebut dibacakan Sukmawati pada acara "29 Tahun Anne Avantie Berkarya" di Indonesia Fashion Week 2018. Video pembacaan puisi yang beredar di dunia maya ini menuai komentar pedas dari berbagai pihak, mulai dari artis sampai pengurus Persaudaraan Alumni 212, Kapitra Ampera.
Kapitra tersinggung dengan sebutan azan pada puisi Sukmawati. Dalam puisi tersebut, alunan azan dianggap kalah merdu dengan kidung Indonesia. "Jangan banding-bandingkan azan. Azan itu panggilan ibadah," ujar Kapitra kepada awak media pada Senin (2/4).
Sementara itu, beberapa public figure wanita pun ikut tersinggung dengan penyebutan cadar dalam puisi Sukmawati. Salah satunya adalah artis Ingrid Kansil, ketua umum dan founder Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia.
Melalui akun Instagram miliknya, Ingrid memberikan catatan dari ustaz Felix Siauw tentang "Kamu Tak Tahu Syariat". Dalam tulisannya disebutkan bahwa membandingkan konde dengan cadar adalah hal yang menggelikan.
Tertulis pula sindiran keras terhadap puisi Sukmawati yang menyebutkan tak tahu syariat Islam. Tak hanya meminta untuk diam, Sukmawati bahkan digugat serta dipertanyakan mengapa cadar dan azan mengganggu dirinya.
Artis cantik Kartika Putri pun ikut membalas sindiran tersebut melalui Instagram belum lama ini. Ia mengaku jika dirinya berusaha menjadi muslimah sekaligus anak bangsa Indonesia dengan cara yang baik dan benar, bukan saling menjatuhkan.
"Saya hanyalah seorang Muslimah yang Berkebangsaan Indonesia dan berusaha menjalankan Syariat Islam dengan Baik dan Benar..," tulis Kartika. "Juga berusaha menjadi anak Bangsa yang menghormati Perbedaan dan Saling Menghargai sesama.. #menghargaiperbedaantanpamenjatuhkan #indonesiadamaibersatu."
Artis lain yang ikut memberikan komentar adalah Pipik Dian Irawati alias Umi Pipik. Melalui akun Instagram miliknya, Umi Pipik pun memberikan balasan puisi untuk Sukmawati dengan diberi tanda pagar #maafibuakutidakmengenalmu.
Dalam puisinya, Umi Pipik memberikan penekanan dengan menyebut bahwa dirinya tidak mengenal sosok "Ibu" yang ditujukan pada Sukmawati. Ia juga mengaku jika dirinya sangat terluka dan marah mendengar puisi Sukmawati yang menyinggung tentang pakaian dan suara azan.
Meski menuai kecaman dari berbagai pihak, Sukmawati mengaku tidak ada isu SARA dalam puisi yang dibawakannya. Menurutnya, apapun yang disampaikan dalam puisi tersebut adalah pendapat pribadi sang budayawan.
"Saya enggak ada SARA-nya di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja, namun saya menyelami, menghayati, khususnya ibu-ibu di beberapa daerah," jelas Sukmawati dilansir Detik.com pada Selasa (4/3). "Ada yang banyak tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia timur, di Bali, dan di daerah lain."
Banyak yang tersinggung soal suara azan yang dianggap kalah merdu dengan kidung ibu pertiwi, Sukmawati pun angkat bicara. Menurutnya sebagai seorang budayawati, senandung ibu-ibu memang lebih merdu dan melekat dalam benaknya.
"Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh saja, dong. Enggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu, itu suatu kenyataan," lanjut Sukmawati. "Ini kan seni suara, ya, dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati."
Sukmawati pun membebaskan publik untuk mengapresiasi karyanya dengan cara masing-masing. Menurutnya, tidak semua panggilan salat merdu didengar. Beberapa azan dirasanya kurang merdu sehingga tidak enak didengar.
"Jadi ya silakan orang-orang melakukan tugas untuk berazan pilihlah yang suaranya merdu, enak didengar, sebagai panggilan waktu untuk salat," pungkas Sukmawati. "Kalau tidak ada, akhirnya di kuping kita kan terdengar tidak merdu."
(wk/)