Sandiaga juga menegaskan bahwa ia dan keluarganya sudah siap menghadapi kemungkinan berita miring yang menyerangnya jelang Pilpres 2019.
- Silmi Amalia Fidareni
- Rabu, 26 September 2018 - 17:26 WIB
WowKeren - Hal yang kurang menyenangkan dialami calon wakil presiden dari kubu Prabowo Subianto, yakni Sandiaga Uno. Jelang pemilihan presiden yang akan dilangsungkan pada 2019 mendatang, ia terkena kampanye hitam. Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan sebuah situs yang mengunggah beberapa skandal Sandiaga.
Dalam situs yang sudah diblokir oleh Kemenkominfo tersebut, banyak diunggah artikel mengenai dugaan perselingkuhan Sandi. Paling parah ia disebut melakukan sejumlah skandal seks dengan seorang wanita yang berstatus sebagai seorang karyawan swasta.
Setelah ramai dibicarakan, Sandi akhirnya buka suara. Ia mengaku bahwa semua itu murni fitnah yang ditujukan padanya. Meskipun demikian, ia tetap merasa bersyukur lantaran hal tersebut bisa mengurangi dosanya.
"Saya perlu jelaskan itu semua fitnah dan saya ya, ya tidak apa-apa fitnah ini kan menggugurkan dosa," terang Sandiaga dilansir CNN pada Rabu (26/9). "Saya sudah siap kok, istri saya sudah siap, semua keluarga juga sudah siap. Ya kami anggap bahwa ini adalah bagian dari perjuangan.".
Lebih lanjut, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini meminta tim pendukungnya untuk tidak terlalu terbawa perasaan. "Saya juga sudah minta sama tim untuk janganlah terlalu baper, lakukan saja semua sesuai aturan dan ketentuan," jelas Sandiaga.
Saat ini, polisi masih terus menggali keterangan terkait munculnya situs yang beralamatkan skandalsandiaga.com tersebut. Pihak kepolisian menyatakan bahwa pihaknya akan menindak tegas segala pelaku yang terlibat. Polisi sendiri sudah membentuk tim khusus guna menyelidiki berita-berita hoaks menjelang Pilpres.
Di sisi lain, perhatian akan kasus ini juga didapatkan dari salah satu perwakilan Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni. Antoni berpendapat bahwa kampanye hitam ini mungkin saja dibuat oleh pendukung Sandiaga sendiri. Menurut Antoni, pola yang sama juga pernah dilakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada pemiihan Presiden AS.
(wk/silm)