Nisan salib seorang warga Katolik di pemakaman umum Jambon Kotagede terpaksa harus dipotong untuk menghindari konflik dengan warga kampung.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 21 Desember 2018 - 09:24 WIB
WowKeren - Baru-baru ini, masyarakat dibuat heboh dengan kasus pemotongan nisan berbentuk salib di Kotagede, Yogyakarta, Senin (17/12). Nisan salib makam warga Katolik, Albertus Slamet Sugihardi, yang berada di komplek pemakaman umum Jambon Kotagede dipotong bagian atasnya setelah muncul desakan dari warga kampung.
Menanggapi peristiwa tersebut, Raja Keraton sekaligus Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara khusus menyampaikan permohonan maafnya. Sultan meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa terganggu atas kejadian tersebut.
"Saya selaku pimpinan wilayah, memohon maaf kepada Bu Slamet dan seluruh keluarga," tutur Sultan dalam jumpa pers di Balai Kota Yogya, Kamis (20/12). "Juga Kevikepan DIY serta pihak Paroki Gereja Kotagede yang terganggu atas peristiwa itu."
Sultan mengaku tidak mau menyalahkan pihak mana pun. Ia berpendapat bahwa peristiwa pemotongan nisan salib ini merupakan pelajaran bagi semua orang. Sang Gubernur juga menekankan pentingnya menjaga toleransi untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis di Yogyakarta.
"Saya tidak mau menyalahkan siapapun. Yang pasti, semua masyarakat perlu memahami adanya perbedaan di sekitar mereka," tutur Sultan. "Kemajemukan harus menjadi sebuah kekuatan, bukan justru kelemahan yang bisa dicabik-cabik."
Meski demikian, Sultan mengaku bahwa Yogya masih menjadi kota yang penuh dengan toleransi. Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut dilakukan setelah ada kesepakatan sosial antar-warga. Namun, caranya tidak sesuai dengan konstitusi.
"Kami memahami dan mengerti aturan konstitusi dan perundangan. Namun, belum tentu masyarakat paham," ujar Sultan. "Mungkin cari praktisnya, dasarnya kebersamaan untuk mencari solusi agar tak muncul gejolak."
Sultan mengungkapkan bahwa menurut informasi yang ia terima, warga kampung juga ikut membantu keluarga dalam mengurus pemakaman jenazah. Pemotongan nisan berbentuk salib dilakukan setelah ada kesepakatan warga dan keluarga almarhum.
"Warga saat itu mungkin hanya mengambil sisi praktisnya saja," jelas Sultan. "Padahal ada acuan kontitusi menyangkut simbol keagamaan. Ini yang tidak diperhatikan."
Sultan menilai kejadian tersebut bisa menjadi pelajaran, terutama menyangkut nilai-nilai keagamaan di masyarakat yang sudah dijamin konstitusi. Ia takut persitiwa ini dapat berkembang menjadi kesalahpahaman dan prasangka.
"Masyarakat mungkin menilai apa yang mereka lakukan tidak akan berdampak seperti ini karena mereka hanya bersikap praktis saja setelah ada kesepakatan di warga," terang Sultan. "Berita tentang ini justru memberikan nuansa kesalahpahaman yang kemudian menyebabkan prasangka."