Sidik Jari Sulit Ditemukan, Polisi Alami Kesulitan Ungkap Pelaku Teror Bom Dua Rumah Pimpinan KPK
Instagram/divisihumaspolri
Nasional

Polisi mengalami kesulitan mengidentifikasi pelaku bom teror karena barang bukti sudah terkontaminasi oleh sidik jari warga sekitar.

WowKeren - Kasus teror bom yang terjadi di dua rumah pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini masih belum menemui titik terang. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan pihaknya mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi sidik jari milik pelaku bom teror di rumah Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarif.

Hal itu disebabkan karena sudah ada banyak pihak yang memegang botol molotov. Ditambah dengan fakta bahwa botol tersebut juga pernah disiram untuk memadamkan api, maka pengungkapan sidik jari menjadi semakin sulit.


Meski demikian, hal itu tak menyurutkan langkah Polri untuk terus menggali informasi terkait pelaku. Saat ini, tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) Polri tengah berupaya untuk memunculkan sidik jari tersebut.

"Ada beberapa kendala yang ditemui karena kejadiannya sudah terlalu banyak dari warga sekitar yang pegang itu," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (14/1). "Kemudian, karena dari api disiram air, sehingga untuk memunculkan sidik jari itu butuh teknik INAFIS untuk cari sidik jari itu."

Ternyata Polri tak hanya mengandalkan sidik jari untuk mencari pelaku bom teror. Dedi mengatakan bahwa pihaknya saat ini juga telah mengambil langkah lain mengungkap identitas pelaku dengan memanfaatkan rekaman CCTV.

Sementara itu, kesulitan yang sama juga terjadi ketika Polri berusaha mengungkap pelaku teror bom palsu berbentuk pipa yang dikirim ke rumah Ketua KPK Agus Raharjo. Dedi mengatakan bahwa tas berwarna hitam yang berisi bom palsu juga sudah terkontaminasi oleh sidik jari warga sekitar.

"Tas itu juga kan diturunkan oleh anggota sama yang di paralon (bom palsu) itu," papar Dedi. "Kan paralon itu setelah digergaji, untuk dicek komponen senyawa yang ada di paralon itu, ternyata fake bomb, ada banyak sidik jari di situ."

Untuk mengungkap pelaku teror bom palsu di rumah ketua KPK, Dedi juga berupaya membuat sketsa wajah berdasarkan keterangan saksi. Langkah ini juga tak bisa dibilang mudah.

Sebab, pembuatan sketsa wajah juga harus menggabungkan keterangan dari sejumlah saksi. Sehingga tidak bisa jika hanya dilakukan sekali atau dua kali. "Kemudian, yang untuk sketsa wajah, itu tidak bisa sekali atau dua kali atau tiga kali," sambung Dedi.

You can share this post!

Related Posts
Loading...