Kondisi daerah aliran sungai yang semakin kritis dipicu adanya eksploitasi sumber daya hutan berupa sistem ladang berpindah.
- Wahyu
- Rabu, 23 Januari 2019 - 14:15 WIB
WowKeren - Hujan kerap menimbulkan masalah tersendiri bagi sejumlah orang. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah yang rawan banjir.
Enam wilayah di Sulawesi Selatan (Sulsel) dilanda banjir bandang belum lama ini. Empat kecamatan di Kabupaten Maros terendam. Di Kabupaten Gowa bahkan dilaporkan ada 6 orang meninggal akibat luapan banjir.
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengatakan bahwa banjir yang mengepung warganya itu merupakan gejala alam yang luar biasa. Ia lalu mengungkapkan bahwa meluapnya air bah disebabkan karena adanya pendangkalan dam sungai Bili-bili.
Menurutnya, pendangkalan di sekitar sungai sudah menjadi masalah serius yang harus segera ditangani. Tak hanya itu, hal tersebut juga diperparah dengan adanya eksploitasi sumber daya hutan di daerah hulu sungai.
“Ini adalah gejala alam yang luar biasa," kata Nurdin di Palopo, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1). "Penyebab banjir akibat pendangkalan dam sungai Bili-Bili yang sudah serius untuk ditangani."
Salah satu daerah aliran sungai (DAS) yang kondisinya cukup memprihatinkan adalah DAS Jeneberang. DAS ini termasuk ke dalam kategori kritis.
Kondisi tersebut diakibatkan adanya eksplotasi sumber daya hutan berupa sistem ladang berpindah. Ironisnya, upaya konservasi yang dilakukan kalah cepat dengan perusakan hutan yang terjadi.
“DAS Jeneberang itu sudah masuk kategori DAS yang super kritis akibat terjadinya eksploitasi sumberdaya hutan di hulu seperti perladangan berpindah, dan sebagainya," jelas Nurdin. "Sementara lebih cepat perusakan hutan daripada upaya konservasi yang dilakukan."
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Teuku Iskandar mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan sistem peringatan dini bagi warga. Hal itu untuk menyikapi kondisi operasional bendungan Bili-Bili.
Berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), peringatan dini akan dikeluarkan ketika level elevasi bendungan mencapai angka +99,42. Informasi tersebut disampaikan kepada warga bagian hilir bahwa pintu air akan dibuka.
Akibat meluapnya air sungai Jeneberang, banjir dan tanah longsor pun tak dapat dielakkan. Pemkab Gowa mencatat ada enam orang meninggal dalam bencana tersebut. Tak hanya itu, sebanyak 2.121 warga harus mengungsi.
(wk/wahy)