Ratusan massa pendukung partai bersitegang dengan Pemuda Masjid Jogokariyan hingga terjadi aksi pelemparan batu.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 29 Januari 2019 - 10:36 WIB
WowKeren - Kericuhan sempat terjadi di depan Masjid Jogokariyan, Jalan Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta, pada 27 Januari 2019. Terjadi tegangan antara ratusan massa pendukung partai dengan Pemuda Masjid Jogokariyan. Anggota takmir Masjid Jogokariyan, Syubbani Rizali Noor, menjelaskan bahwa hari itu pihaknya tengah mengadakan beberapa acara.
"Sore pembagian sembako untuk 400 warga miskin," tutur Syubbani, Senin (28/1). "Nah pas inilah konvoi PDIP melempari jemaah masjid, akhirnya para pemuda masjid melakukan perlawanan mereka kabur."
Menurut Syubbani, saat itu jalan di sebelah barat masjid memang sedang ditutup karena ada acara tadi. Lalu sekitar pukul 16.00 WIB, ratusan massa datang dan melempari batu. Syubbani juga mengaku bahwa ratusan massa tersebut sempat membawa senjata dalam bentrokan yang terjadi.
"Mereka ada bawa sajam, tongkat bisbol," ujar Syubbani. "Mereka seolah sudah mempersiapkan."
Menanggapi insiden tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menduga ada provokator di baliknya. MUI pun meminta polisi mengusut tuntas kasus ini.
"Yang jadi provokator harus diusut supaya ketahuan pelakunya," tutur Ketua Bidang Infokom MUI KH Masduki Baidlowi kepada wartawan, Senin (28/1). "Polisi cepat, tegas, siapa oknum itu."
Menurut Masduki, ada pihak yang hendak membuat kekacauan atas peristiwa tersebut. Ia tak percaya pelaku penyerangan tersebut berasal dari partai tertentu. Masduki menduga ada pihak yang berusaha melakukan provokasi agar muncul kekisruhan.
"Saya kira itu susupan-susupan, ya. Masa bawa senjata tajam dan segala macam," jelas Masduki. "Itu yang mesti hati-hati. Siapa yang memprovokasi? Ya pihak-pihak yang tidak senang Indonesia damai."
Kericuhan tersebut untungnya dapat diakhiri dengan jalan damai. Pasalnya, polisi langsung melakukan mediasi di kantor kecamatan.
Ketua DPC PDIP Mantrijeron, Junianto, pun telah meminta maaf mewakili pihak-pihak yang terlibat kericuhan. Junianto juga menghadirkan sosok "Kelinci" yang diduga menjadi provokator dalam insiden tersebut.
"Poinnya ya tadi mereka (massa) minta maaf diwakili Pak Juni (Junianto, Ketua DPC PDIP Mantrijeron) itu," jelas anggota takmir masjid Jogokariyan, Fanni Rahman. "Kemudian Pak Juni menghadirkan tokoh penggeraknya, Kris Kelinci, minta maaf ke jemaah masjid yang diwakili saya. Bisa di kantor kecamatan atau di polsek.”
Mediasi tersebut menghasilkan kesepakatan tertulis bermaterai yang menyebutkan agar dalang kericuhan minta maaf. Pihak masjid sendiri tidak ingin insiden tersebut dipolitisasi apalagi serangan tersebut dinilai bersifat spontan.
"Yang saya tahu ini serangan karena spontan gitu. Makanya kami sepakat minta dua hal," terang Fanni. "Kesepakatan damai ini juga sensitif, berbeda kejadian yang lain. Kami juga tidak mau dibawa urusan politik.”
(wk/Bert)