TKN menilai bahwa konten yang disampaikan pada 'Indonesia Barokah' dan 'Obor Rakyat' sangat jauh berbeda.
- Wahyu
- Selasa, 29 Januari 2019 - 11:38 WIB
WowKeren - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo alias Jokowi-Ma'ruf Amin menilai bahwa isi yang ada pada tabloid Indonesia Barokah tidak sama dengan isi Obor Rakyat. Obor Rakyat merupakan tabloid yang dianggap kontroversial pada Pilpres 2014 lalu.
Wakil Ketua TKN Arsul Sani meminta agar Indonesia Barokah tidak disamakan seperti Obor Rakyat. Sebab menurut Arsul, apa yang disampaikan di dalam kedua tabloid tersebut sangatlah jauh berbeda.
"Kalau kita semua pernah membaca antara Obor Rakyat dan tabloid Indonesia Barokah itu beda isinya ya," kata Arsul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/1). "Beda sekali, jadi seolah-olah jangan ini disamakan seperti Obor Rakyat."
Arsul mengatakan hal tersebut bukanlah tanpa alasan. Ia mengaku telah membaca dua tabloid tersebut sehingga ia bisa menyimpulkan perbandingan di antara keduanya.
Menurut Arsul Indonesia Barokah berisi mengenai fakta-fakta yang memang terjadi. Meskipun tak dipungkiri bahwa isi di dalamnya lebih bersifat mengkritisi Paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Karena apa yang ada di tabloid tersebut berangkat dari fakta, maka Arsul menilai tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari Indonesia Barokah. Hal ini berbeda jauh dengan Obor Rakyat yang beredar beberapa tahun lalu.
Arsul menilai bahwa tabloid kontroversial tersebut berisi ujaran kebencian yang mengandung fitnah. Adapun isinya bertujuan untuk menyerang Jokowi. Atas alasan inilah tabloid ?Obor Rakyat kemudian ditindak secara hukum.
Meski Indonesia Barokah berisi fakta-fakta, namun Arsul menganggap tak seharusnya tabloid tersebut diedarkan di tempat ibadah dan pesantren. Ia menuturkan tabloid tersebut boleh diedarkan di tempat yang ramai publik seperti terminal dan pasar.
"Ya bisa diedarkan di terminal boleh," lanjut Arsul. "Kemudian di pasar boleh, di tempat-tempat keramaian, tapi jangan ke masjid."
Arsul meminta semua pihak untuk tidak saling melemparkan tudingan terkait siapa dalang dibalik Indonesia Barokah. Jika memang ada bukti, ia mempersilahkan siapa saja untuk melaporkan hal ini ke Bawaslu ataupun Polri.
"Kalau bisa enggak usah main tuding-tuding, make it simple," tegas Arsul. "Kalau punya bukti yang kuat, silakan bawa ke Bawaslu, bawa ke kepolisian RI."
(wk/wahy)