Kenaikan tarif kargo pesawat yang tinggi dinilai cukup memberatkan PT JNE.
- Wahyu
- Jumat, 08 Februari 2019 - 08:55 WIB
WowKeren - Kenaikan tarif pesawat memberikan imbas di berbagai bidang. Bagi pengusaha jasa layanan pengiriman barang, mahalnya tarif kargo udara sangat berdampak pada bisnis mereka.
Salah satunya PT JNE. Akibat kenaikan tarif kargo pesawat, PT JNE memutuskan untuk tidak lagi mengirim barang dengan menggunakan jalur udara. Hal tersebut dikemukakan oleh Presiden Direktur PT JNE Mohamad Feriadi. Feriadi mengatakan bahwa pihaknya sudah menghentikan secara total pengiriman lewat kargo udara.
"JNE sudah total, yang lain sambil kita cek lagi," kata Feriadi dilansir dari detikFinance pada Jumat (8/2). "Tapi kita mau ini total, kita mau anggota kita bertahan.
PT JNE selama ini mempercayakan Garuda Indonesia untuk pengiriman jalur udara. Sebagai konsumen, Feriadi mengatakan bahwa tarif Garuda saat ini terlalu mahal sehingga akan kurang efisien untuk keperluan bisnis. Oleh sebab itu, pihaknya memutuskan untuk mengalihkan semua pengiriman jalur udara ke darat.
"Kami sebagai konsumen Garuda yang merasa tarifnya sangat tinggi kami mencari alternatif pengiriman yang lebih efisien ya," tutur Feriadi. "Akhirnya kami mengalihkan kiriman yang lewat udara kami alihkan lewat darat."
PT JNE masih belum menentukan sampai kapan pihaknya akan terus menggunakan jalur darat. Sebab, Feriadi menilai hal itu juga tergantung pada bagaimana kondisi ke depannya. Jika pihak maskapai mau menurunkan tarif mereka, maka PT JNE akan kembali menggunakan jasa penerbangan seperti sebelumnya.
"Belum ditentukan kapannya, tergantung liat kondisi ya, apakah airline akan turunkan tarif atau tidak," jelas Feriadi. "Karena kalau itu tarif airline diturunkan kami akan kembali seperti sedia kala."
Kenaikan tarif kargo udara hingga 300 persen dinilai Feriadi sangat memberatkan PT JNE. Adapun kenaikan tersebut dimulai sejak pertengahan 2018 hingga Januari.
"Kan sekarang masalahnya itu tarifnya kan mahal ya kami merasa keberatan," lanjut Feriadi. "Kenaikan itu terjadi pertama sejak Juni 2018. Sampai Januari ini naik dua kali total 300% lebih."
(wk/wahy)