KPU menilai bahwa Pilpres yang sekarang berbeda dengan pada masa Orde Baru di mana golput dianggap keren.
- Wahyu
- Sabtu, 09 Februari 2019 - 08:41 WIB
WowKeren - Pemilihan presiden (Pilpres) merupakan momentum untuk memilih pemimpin yang tepat untuk bangsa dan negara. Oleh sebab itu, pilihan masyarakat sangat menentukan masa depan Indonesia.
Jika publik bisa memilih pemimpin yang tepat, maka akan berdampak baik pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya, jika salah memilih pemimpin maka justru akan membawa kehancuran bagi negeri ini.
Namun, tak semua orang mau memilih kandidat pemimpin yang dicalonkan. Sejumlah masyarakat lebih memilih untuk golput dengan berbagai alasan.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengimbau masyarakat untuk tidak golput dalam Pilpres 2019 ini. Sebab, satu suara dari setiap warga negara ikut menentukan nasib bangsa ke depannya.
Komisioner KPU Viryan Aziz membenarkan bahwa golput menjadi hak warga negara. Namun, ia menyebut bahwa golput di Pilpres sekarang sudah tak sekeren di era Orde Baru dulu.
"Golput itu hak, tapi sudah nggak keren," kata Viryan di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (8/2). "Kerennya itu golput di Orde Baru."
Berbeda dengan pada masa Orde Baru, saat ini rakyat sudah memiliki kebebasan untuk memilih tanpa adanya intimidasi dari pihak manapun. Sehingga Viryan menilai bahwa rakyat tidak perlu menjadi golput.
"Kalau sekarang apa yang mau di-golputin?" tanya Viryan. "(Sekarang) setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menggunakan hak pilihnya, tidak ada intimidasi."
Pilpres diadakan setiap lima tahun sekali sehingga kesempatan untuk menyalurkan aspirasi pilihan boleh dibilang langka. Selain itu, meskipun seorang warga negara memutuskan untuk golput, akan tetap ada yang keluar sebagai pemenang di Pilpres ini.
"Rugi kalau nggak milih," tegas Viryan. "Golput itu rugi karena kalau kita tidak memilih siapa pun orangnya pasti tetap akan terpilih dan kita tidak terlibat di dalam keterpilihan mereka."
Dengan warga negara memanfaatkan hak pilih mereka, maka potensi manipulasi jumlah suara akan semakin kecil. Viryan juga menyebutkan bahwa satu suara bisa menentukan jika selisih antar kandidat tidak seberapa jauh. "Potensi manipulasi seperti masa lalu kecil dan satu suara memang menentukan," tutur Viryan.
(wk/wahy)