MUI membantah jika dianggap netral namun lembaga tersebut membebaskan anggotanya untuk memilih Paslon manapun.
- Wahyu
- Kamis, 21 Februari 2019 - 13:12 WIB
WowKeren - Majelis Ulama Indonesia menyampaikan bahwa pihaknya merupakan lembaga yang tidak terikat oleh politik kekuasaan. Sehingga dalam Pilpres mendatang, lembaga ini tidak menyatakan dukungannya ke salah satu Paslon. Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin.
"Kami ingin tegaskan, MUI sebagai organisasi kelembagaan tidak terlibat pada politik kekuasaan," kata Din di Gedung MUI, Jakarta Pusat, Rabu (20/2). "Tidak pada posisi mendukung atau tidak mendukung."
Meski demikian, MUI tetap menjunjung tinggi hak-hak demokrasi para anggotanya. Lembaga ini tidak melarang jika anggotanya memberikan dukungan ke salah satu Paslon.
"Walaupun ada Ketua MUI menjadi calon wakil presiden," imbuh Din. "MUI secara kelembagaan tidak dalam posisi mendukung atau tidak mendukung. Jadi bebas."
Walau begitu, Din membantah jika lembaga itu disebut netral. Sebab menurutnya, netral sama saja artinya dengan golput. Pilihan diserahkan kepada masing-masing individu. Din mengimbau agar pemilih bisa memanfaatkan hak pilih mereka dengan menggunakan hati nurani, bukan seperti membeli kucing dalam karung.
"Netral itu kan golput," tegas Din. "Tapi kita serahkan kepada masing-masing ormas, pada masing-masing individu sesuai hati sanubari dan literasi politik. Jangan memilih kucing dalam karung."
Din juga mengimbau pada publik bahwa mendukung Capres itu sah-sah saja, namun sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Sebab, bisa jadi sewaktu-waktu Capres tersebut bisa berubah menjadi orang yang dibenci.
Begitu juga sebaliknya, jangan membenci Capres secara berlebihan. Sebab, bisa jadi Capres yang dibenci tersebut menjadi orang yang dicintai.
"Cintailah kekasihmu (Capres bukan pilihanmu) sedang-sedang saja, karena boleh jadi sewaktu-waktu dia akan menjadi orang yang engkau benci," terang Din. "Dan bencilah lawan politikmu (Capres bukan pilihanmu) sedang-sedang saja, karena boleh jadi sewaktu-waktu engkau akan mencintainya."
Dengan kata lain, Din mengajak publik untuk bersikap rasional dalam berpolitik. Ia mengimbau agar tidak ada fanatisme berlebihan hingga saling menghujat satu sama lain. Sebab hal itu justru akan menurunkan martabat sebagai manusia.
"Artinya, mari kita rasional, proporsional, dan moderat dalam berpolitik," imbau Din. "Nggak usahlah terlalu ekstrem ya, apalagi sampai saling menghujat, meniadakan, dan mendegradasi kemanusiaan."
(wk/wahy)