Ma'ruf Amin Tagih Ajakan ke Munajat 212, MUI DKI Jakarta: Kami Tak Undang Tokoh Politik
Nasional

Ma'ruf mempertanyakan fakta dirinya sebagai pembuat Fatwa 212, namun justru tak diundang dalam acara Munajat pada (21/2) kemarin.

WowKeren - Acara Munajat 212 yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah ormas pada Kamis (21/2) kemarin mengundang sejumlah polemik. Pasalnya, calon wakil presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin mengaku tak dilibatkan.

Ma'ruf mempertanyakan undangan terhadap dirinya sebagai pembuat Fatwa 212. Sebagai pembuat fatwa, mantan ketua MUI ini heran saat dirinya tak dilibatkan dalam malam Munajat 212 tersebut.

"Yang mengeluarkan fatwa lahirnya 212 kan dari fatwa saya," tutur Ma'ruf di Hotel Aryaduta, Minggu (24/2). "Saya kok enggak diundang?"

Menjawab pertanyaan Ma'ruf, MUI DKI Jakarta akhirnya buka suara. Menurut mereka, panitia memang sengaja tak mengundangnya lantaran Ma'ruf kini sudah jadi tokoh politik. Panitian mengaku tak ingin mencemari acara dengan unsur politik.


Ma'ruf yang sudah mencalonkan diri menjadi cawapres ternyata menjadi alasannya. "Satu sisi, posisi beliau kan cawapres, nanti khawatir kita ada nuansa politisnya, jadi memang sejak awal kami menghindari betul, kami ada nuansa politik maka kita tidak undang tokoh-tokoh politik," ujar Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI DKI Jakarta, Faiz Rafdhi, dilansir Detik pada Senin (25/2).

Di sisi lain, MUI DKI Jakarta juga mengaku tak melibatkan MUI Pusat dalam acara yang memuat ceramah Habib Rizieq Shihab tersebut. "Jadi gini, itu karena memang gagasannya untuk ormas Islam se-DKI, jadi kita juga nggak undang pusat, bahkan ormas-ormas Islam pusat pun juga tidak diundang. Jadi MUI DKI dan majelis taklim se-jabodetabek," jelas Faiz.

Acara Malam Munajat 212 ini juga menimbulkan sejumlah kontroversi. Bukan cuma kericuhan yang disebut terjadi karena adanya copet, aksi baca puisi Neno Warisman dalam acara tersebut juga panas menjadi bahan pembicaraan.

Sebelumnya, Ma'ruf juga pernah menyinggung 212 yang kini dinilai menjadi gerakan politik. Ia menjelaskan bahwa awalnya gerakan tersebut dibentuk untuk menegakkan hukum dalam kasus penistaan agama yang menyeret Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Seharusnya, 212 sendiri sudah bebar sejak kasus Ahok selesai. Namun, gerakan tersebut dimunculkan kembali meskipun Ahok telah menerima hukuman dan bahkan kini telah selesai menjalankannya.

(wk/silm)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!