Dituding Dalangi Kerusuhan '98 , Wiranto Tantang Prabowo dan Kivlan Zen Sumpah Pocong
Instagram/wiranto.official
Nasional

Kivlan mempertanyakan sikap Wiranto sebagai panglima ABRI yang justru memilih untuk meninggalkan ibukota saat kerusuhan terjadi.

WowKeren - Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal (purn.) Kivlan Zen menuding Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto turut melengserkan Presiden Soeharto pada 1998. Hal tersebut didasarkan pada sikap Wiranto yang justru meninggalkan ibukota saat suasana sedang genting.

"Ya, sebagai panglima ABRI waktu itu, Pak Wiranto kenapa dia meninggalkan Jakarta dalam keadaan kacau," kata Kivlan di Gedung AD Premier, Jakarta Selatan, Senin (25/2). "Dan kenapa kita yang untuk amankan Jakarta tidak boleh kerahkan pasukan, itu."

Tak terima atas tuduhan itu, Wiranto menantang Kivlan dan Capres 02 Prabowo Subianto untuk melakukan sumpah pocong. Saat itu, Prabowo menjabat sebagai Panglima Kostrad.

"Saya berani, katakanlah berani untuk sumpah pocong saja," kata Wiranto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (26/2). "Tahun 1998 itu yang menjadi bagian dari kerusuhan itu, saya, Prabowo, Kivlan Zen, sumpah pocong kita."

Ia tidak ingin jika tuduhan semacam itu justru bisa menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. Ia ingin membuktikan bahwa siapa sebenarnya yang menjadi dalang kerusuhan.

"Siapa yang sebenarnya dalang kerusuhan itu," tegas Wiranto. "Supaya terdengar di masyarakat, biar jelas masalahnya. Jangan asal menuduh saja."


Apa yang dikatakan oleh Kivlan menurut Wiranto tidak sesuai dengan fakta. Ia menganggap Kivlan tak mau melihat kenyataan yang ada di masyarakat.

"Kasihan saudara Kivlan Zen yang selalu menyampaikan pernyataan ngawur," imbuh Wiranto. "Tidak ada fakta soal itu. Dan tidak lagi melihat kenyataan yang beredar di masyarakat."

Mantan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI tersebut menegaskan bahwa dirinya ikut mencegah kerusuhan terjadi. Ia mengaku sudah melakukan berbagai upaya. Dalam tiga hari, ia sudah berhasil mengamankan ibukota.

"Tiga hari saya mampu amankan negeri," tegas Wiranto. "Tanggal 13 Mei terjadi penembakan Trisakti, siang kerusuhan di Jakarta. Tanggal 14 Mei kerusuhan memuncak, 14 malam saya kerahkan pasukan dari Jatim masuk Jakarta sehingga 15 pagi Jakarta aman dan situasi nasional aman."

Wiranto mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki niatan untuk mengkudeta pemerintahan Soeharto. Ia juga tidak ingin menjadi bagian dari kerusuhan '98.

"Peluang untuk saya kudeta tidak saya lakukan, saya cinta teman-teman reformis. Tak ada keinginan mengarah pada melakukan langkah mengacaukan '98 sebagai Menhan dan Pangab," pungkas Wiranto.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!