Panglima TNI juga menjelaskan jika medan di Papua sangat berat dan masih sangat mendukung kelompok bersenjata untuk bersembunyi.
- Silmi Amalia Fidareni
- Sabtu, 09 Maret 2019 - 13:43 WIB
WowKeren - Kondisi keamanan di Nduga, Papua, kembali memanas. Pada Kamis (7/3) kemarin, sebanyak tiga orang prajurit TNI yang bertugas dikabarkan tewas. Mereka diserang oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) sekitar pukul 08.00 WIT.
Menghadapi serangan KKB yang kembali muncul, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan jika gerakan separatis di Papua tak harus dilawan dengan peperangan. Menurutnya, untuk menghadapi KKB, TNI bisa melakukan dua cara, yakni dengan pertempuran maupun dengan non-tempur.
Operasi non-tempur bisa dilakukan dengan merebut hati rakyat Papua. Hal itu bisa dilakukan dengan kegiatan-kegiatan yang membuat warga setempat nyaman. Akibatnya, mereka tak membuat gerakan yang bisa mengancam kedaulatan negara.
"Rasa aman dan nyaman ini akan menjadi virus kepada mereka semua yang memiliki niat untuk memberontak," terang Marsekal Hadi Tjahjanto seperti dilansir Antara pada Sabtu (9/3). Panglima TNI untuk itu menyarankan berbagai kegiatan sosial seperti penyuluhan kesehatan, pertanian, dan sebagainya untuk merebut hati rakyat Papua.
Panglima TNI menjelaskan jika hingga saat ini, gangguan-gangguan masih muncul terkait pembangunan Trans Papua. Oleh karena itu, TNI berkewajiban untuk turut memberikan keamanan. "TNI memiliki kemampuan untuk mengamankan dan memiliki kemampuan untuk membangun infrastruktur, karena TNI memiliki batalion zeni konstruksi dan zeni tempur," terang Marsekal Hadi.
Tewasnya tiga orang prajurit TNI lantaran serangan KKB membuktikan jika masih ada gangguan di Papua. Meski medan di Papua berat, para prajurit TNI lain terus berusaha untuk mengejar KKB yang mengancam keselamatan itu.
"Hal ini sebagai bukti masih ada gangguan di Papua, tapi gangguannya relatif kecil," ujar Marsekal Hadi. "Namun, kami optimistis TNI dapat menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI."
Diketahui, keadaan di Nduga kembali memanas usai 25 orang pasukan TNI yang tiba di Distrik Mugi yang bertujuan mengamankan jalur pergeseran pasukan mendapatkan serangan mendadak oleh sejumlah pasukan KKB. Mereka menyerang pasukan TNI dengan senjata campuran militer dan tradisional seperti panah dan tombak.
(wk/silm)