Djarot Saiful Hidayat bercerita tentang perubahan yang ia lakukan kepada makam sang proklamator saat dirinya masih menjabat sebagai Wali Kota Blitar pada 2000 hingga 2010.
- Bertilia Puteri
- Senin, 13 Mei 2019 - 08:43 WIB
WowKeren - Perjalanan politik Djarot Saiful Hidayat sebagai seorang kepala daerah memang cukup panjang. Sebelum mendampingi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memimpin DKI Jakarta pada 2104 silam, Djarot pernah menjadi Wali Kota Blitar selama 2 periode pada 2000 hingga 2010.
Djarot pun lantas memiliki beberapa kisah unik kala masih menjabat sebagai Wali Kota. Salah satunya adalah keganjilan yang ia temui pada makam sang proklamator, Soekarno.
"Dahulu kita tak bisa sembarangan berziarah ke makam Bung Karno, tidak seperti sekarang," jelas Djarot dilansir tribunnews, Minggu (12/5). "Kita harus memiliki izin kepada aparat setempat."
Selain itu, kondisi makam dikelilingi oleh kaca, sehingga para pengunjung tidak dapat menabur bunga. Hanya mampu melihat dan berdoa dari luar kaca. Djarot pun memutuskan untuk mengadakan perubahan.
"Saya menemui keluarga Bung Karno. Para ahli warisnya, Mas Guntur, Guruh, Sukma, Bu Mega," terang Djarot. "Saya mengungkapkan rencana untuk membuka area pemakaman tersebut."
Namun Djarot mengalami kesulitan saat hendak membuka area pemakaman Bung Karno. Salah satunya adalah kesulitan memindahkan batu berbobot 15 ton yang diletakkan tepat di atas makam.
"Saya tidak tahu ya fenomena klenik apa yang dipakai penguasa saat itu (Presiden Soeharto)," ungkap Djarot. "Namun batu berbobot 15 ton diletakkan di atas tanah kuburan itu."
Bukan dengan ekskavator, Djarot menjelaskan bahwa batu 15 ton tersebut daat diangkat dengan menggunakan ilmu kebatinan 7 orang. "Batu yang bertuliskan 'Di sini dimakamkan Bung Karno Proklamator' itu telah dipindahkan ke luar pusaranya," ungkap Djarot.
Menurut Djarot, suasana "angker" sengaja dibuat di area pemakaman tersebut agar masyarakat enggan mendatangi dan berziarah ke tempat peristirahatan terakhir Bung Karno. Namun ia bertekad untuk mengubah kondisi tersebut.
"Saya berkomitmen agar makam itu menjadi magnet wisata Kota Blitar," jelas Djarot. "Dahulu tidak ada yang menjual kaus, buah tangan di sekitar makam. Namun saat ini berjejer toko-toko cinderamata."
(wk/Bert)