Agum Gumelar tidak secara detail menyebut apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut, namun yang pasti pemerintah berharap agar perbedaan politik berakhir seiring dengan selesainya Pilpres.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 14 Mei 2019 - 15:47 WIB
WowKeren - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo alias Jokowi memanggil Menkopolhukam Wiranto beserta Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar ke Istana Kepresidenan pada Selasa (14/5). Adapun pertemuan tersebut untuk membicarakan kondisi politik setelah gelaran Pemilu.
Hal itu seperti yang disampaikan oleh Agum. Saat ini, perbedaan pendapat dalam berpolitik cukup menciptakan jurang pemisah antar masing-masing pendukung Paslon. Untuk itu ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan hasil real count pada Rabu (22/5) nanti, semua perbedaan itu diharapkan bisa disatukan kembali.
"(Membahas) situasi, harapan-harapan," kata Agum, Selasa (14/5). "Supaya setelah Pemilu ini jadi berbeda dalam memilih itu menjadi sesuatu yang wajar."
Agum tidak secara gamblang menyebutkan hal-hal apa sajakah yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Meski demikian, salah satu yang dibahas adalah kondisi setelah KPU mengumumkan pemenang kontestasi Pilpres 2019.
Agum berharap agar perbedaan serta persengketaan yang terkait Pilpres bisa berakhir seiring dengan selesainya gelaran Pilpres. Masyarakat diharapkan bisa menerima apapun hasil keputusan KPU pada 22 Mei nanti sehingga tidak ada lagi perbedaan pandangan politik yang saling berseberangan yang berpotensi mengancam keamanan bangsa.
"Perbedaan memilih ini akan berakhir setelah Pilpres selesai, kapan Pilpres selesai? Tanggal 22 Mei besok, ada pengumuman resmi dari KPU," jelas Agum. "Setelah 22 Mei besok diharapkan seluruh masyarakat Indonesia bersatu kembali untuk menghormati apa pun keputusan demokrasi. Itu saja."
Agum mengaku dirinya sempat memberi masukan kepada Jokowi terkait situasi tersebut. Saran tersebut adalah bagaimana membenahi bangsa Indonesia untuk lebih baik ke depannya.
"Ya jelas ada (masukan), tapi sarannya semua diarahkan supaya bagaimana kita melihat ke depan," tutur Agum. "Jadi tidak usah lihat ke belakang, tapi bagaimana lihat ke depan, apa yang terbaik bagi bangsa dan negara ke depan."
(wk/zodi)