Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Sodik Mujahid, yakin bahwa Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu paham betul mengenai reformasi di tubuh TNI dari yang 'super power' di zaman Orba menjadi lebih adil dan objektif.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 31 Mei 2019 - 14:18 WIB
WowKeren - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengingatkan agar kejadian seperti Aksi 22 tidak terulang kembali. Sebab jika kerusuhan semacam itu terulang, pihak Kemenhan tidak akan segan untuk turun tangan. Jika Menhan sudah turun tangan, itu artinya sudah tidak ada lagi ruang untuk bernegoisasi.
"Saya imbau, sebagai Menteri Pertahanan, jangan sampai terpaksa turun," kata Ryamizard di Kemenhan, Kamis (30/5). "Kalau turun, alat saya TNI, alat pertahanan negara. Jadi, kalau saya turun, tidak ada lagi negosiasi. Saya selesaikan sebaik-baiknya."
Pernyataan itu direspons oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Juru debat BPN Sodik Mujahid menjelaskan mengenai perbedaan peran TNI zaman Orde Baru dan sekarang. Jika TNI zaman dulu sangat berkuasa, kini lebih adil dan objektif.
"Kalau TNI yang dari awal turun menangani peristiwa ini, mungkin situasi lain," kata Sodik, Jumat (31/5). "TNI telah mereformasi diri dan ambil pelajaran dengan baik dari posisinya yang super power tapi salah selama era Orba. TNI sekarang akan tampil lebih adil dan objektif, tidak sekadar jadi "watchdog" suatu rezim."
Terkait hal ini, Sodik yakin bahwa Ryamizard pasti sudah memahami adanya reformasi dalam tubuh TNI. Sayangnya, tidak demikian dengan Menko Polhukam Wiranto. Menurut Sodik, Wiranto masih bergaya Orba untuk menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan polisi.
"Hanya sayang, Menko Polhukam yang eks penguasa Orba masih bergaya Orba dalam tangani peristiwa di masa reformasi ini," lanjut Sodik. "Tapi dengan memanfaatkan Polri."
Oleh sebab itu, ia mewanti-wanti Menhan agar tidak ikut-ikutan seperti Wiranto yang menggunakan cara Orba dalam menyelesaikan suatu masalah keamanan. Menurutnya, masalah keamanan saat ini tidak sama seperti yang terjadi beberapa dekade lalu.
"Kepada Menhan Jenderal Ryamizard saya ingatkan anda TNI sejati yang paham reformasi," tegas Sodik. "Jangan ikut-ikutan bergaya Orba seperti Wiranto dalam menangani kasus keamanan di zaman reformasi yang oleh Menko Menko Polhukam disamakan dengan penanganan kasus di era tahun 70 sampai 90-an atau 30 sampai 50 tahun ke belakang."
(wk/zodi)