Rencana pengadaan bisnis umrah digital yang dicetuskan Menkominfo menimbulkan keresahan di masyarakat. Mereka mengaku khawatir pelibatan start up dapat 'mematikan' biro umrah yang sudah ada.
- Elvariza Opita
- Selasa, 23 Juli 2019 - 12:56 WIB
WowKeren - Perjanjian kerja sama ekonomi digital antara Indonesia dan Arab Saudi ternyata tak langsung mendapatkan respons positif dari masyarakat. Apalagi setelah isu bisnis umrah digital sebagai output perjanjian tersebut semakin santer terdengar.
Untuk diketahui, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menunjuk dua start up unicorn untuk terlibat dalam bisnis umrah digital ini, yakni Traveloka dan Tokopedia. Namun penunjukan ini kedua start up inilah yang menjadi pro dan kontra di masyarakat.
Pasalnya masyarakat, khususnya yang berkecimpung di dunia penyelenggara umrah, khawatir eksistensi bisnisnya akan terganggu. Menanggapi hal itu, Rudiantara akhirnya angkat bicara. Ia memastikan kedua marketplace itu tidak akan "memakan" biro umrah yang sudah ada sebelumnya.
"Keterlibatan Traveloka dan Tokopedia, mereka itu tidak akan menjadi penyelenggara umrah seperti biro penyelenggara umrah lainnya," ujar Rudiantara saat menjawab pertanyaan anggota Komisi I DPR RI dalam Rapat Kerja di Kompleks DPR, Senayan, Senin (22/7). "Kami sudah membicarakan ini dengan Kemenag."
Penandatanganan kerja sama umrah digital ini, ungkap Rudiantara, sudah mendapat persetujuan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Kementerian Luar Negeri. "Saya pastikan, yang namanya Traveloka dan Tokopedia tidak menjadi penyelenggara haji dan umrah," ujarnya, dikutip dari Viva, Selasa (23/7).
Rudiantara menilai pelibatan kedua marketplace itu dilandasi dengan perkembangan dunia digital dan teknologi. Selain itu, baik Traveloka maupun Tokopedia dinilai mampu untuk mengembangkan bisnis umrah di Indonesia.
"Alasan kami melibatkan Traveloka adalah karena sudah mengetahui mekanisme travel. Sedangkan kami melibatkan Tokopedia, karena Sofbank ini sudah menggandeng Tokopedia," tuturnya. "Ini jelas mempermudah kita dalam menyelenggarakan umrah. Tetapi mereka tidak akan mengambil porsi UMKM biro penyelenggara haji dan umrah."
Nantinya tak hanya dua marketplace ini yang terlibat. Akan ada satu aplikasi lagi, bernama Kurma, yang akan ikut dalam integrasi umrah digital.
Sebelumnya wacana pengadaan bisnis umrah digital yang melibatkan dua start up unicorn menjadi kontroversi. Banyak pihak mengaku khawatir rencana Menkominfo ini akan berdampak buruk pada biro umrah kecil yang jumlahnya mencapai jutaan entitas bisnis. Selain itu, kerja sama umrah digital ini dipandang tumpang tindih dengan aturan penyelenggaraan umrah dan haji yang ada selama ini.
(wk/elva)