Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) Edy Putra Irawady menilai bahwa relokasi pabrik terkait persoalan upah buruh di Batam.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 29 Agustus 2019 - 11:45 WIB
WowKeren - Ribuan pekerja di Batam, Kepulauan Riau harus menjadi korban PHK besar-besaran. Hal tersebut merupakan imbas dari penutupan pabrik PT Foster Electronic Indonesia yang merelokasi pabrik mereka ke luar negeri.
Produsen pembuat alat audio tersebut dikabarkan pindah ke Myanmar setelah menutup pabriknya di Batam. Selain PT Foster Electronic Indonesia, ada PT Unisem Batam yang rencananya juga akan mengambil langkah serupa. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Rudi Sakyakirti.
"Foster sudah merencanakan penutupan perusahaan setahun lalu," kata Rudi dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis (29/8). "Di sana ada sekitar 1.000 karyawan. Yang banyak adalah karyawan kontrak, yang permanennya tidak sampai 800 orang."
Akibatnya, pihak manajemen pabrik tidak berniat untuk memperpanjang kontrak kerja dengan para karyawan. Sementara itu, PT Unisem sendiri memiliki karyawan sebanyak 1.505 orang. 1.127 merupakan karyawan tetap dan sisanya adalah tenaga kerja kontrak.
Dikatakan Rudi, perusahaan ini telah berencana untuk menutup perusahaan pada akhir September 2019. Saat ini, perusahaan tersebut masih memiliki orderan yang harus diselesaikan.
"Namun demikian customer tidak mau (PT Unisem tutup) karena ada orderan yang harus diselesaikan," tutur Rudi. "Mereka menemui saya, lalu kemarin di perusahaan disepakati bahwa akhir September nanti akan ada PHK 700 orang, jadi tinggal 800 orang untuk menyelesaikan semua orderan."
Berbeda dengan Foster yang berelokasi ke Myanmar, Unisem memilih untuk tutup. "Setahu saya, PT Foster relokasi ke Myanmar, kalau Unisem, dia tutup," ucap Rudi.
Rudi menuturkan bahwa tenaga kerja yang di-PHK tersebut akan terserap ke ke perusahaan baru seperti Pegatron Technology dan Simatelex Manufactory. Saat ini, Pegatron masih membangun gedung mereka dan ditargetkan bisa menerima antara 800 hingga 1.600 orang untuk dipekerjakan.
Sementara itu, Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Edy Putra Irawady mengatakan bahwa relokasi pabrik ini terkait dengan masalah upah buruh. Upah buruh di Batam dianggap kurang kompetitif dibanding negara tetangga.
(wk/zodi)