Aktivis lingkungan menilai jika pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan Timur dapat mengganggu eksistensi flora dan fauna khas Kalimantan. Pasalnya, perpindahan ibu kota pasti berkaitan erat dengan pembangunan.
- Wahyu
- Kamis, 29 Agustus 2019 - 14:16 WIB
WowKeren - Pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur masih menimbulkan pro dan kontra. Kali ini aktivis lingkungan menilai jika pemindahan ibu kota ini bisa mengancam kehidupan fauna endemik asal Kalimantan, Bekantan.
Aktivis lingkungan menilai jika perpindahan ibu kota di Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara dipastikan tak luput dari pembangunan juga. Pembangunan itulah yang nantinya akan mengancam eksistensi dari flora dan fauna asli Kalimantan.
Ketua Kelompok Pengelola Mangrove Center Graha Indah Balikpapan, Agus Bei mengatakan hutan mangrove atau bakau menyediakan makanan bagi satwa yang menjadi ikon Dunia Fantasi ini. "Untuk bisa menjaga Bekantan harus kita jaga sumber makanannya, yaitu mangrove (bakau)," kata Agus saat ditemui di area Mangrove Center Graha Indah, Kalimantan, Rabu (28/8). "Harus dipublikasikan sekarang, kalau nanti bisa tidak ada (hutan mangrove) kalau ada perubahan ke depan. Harus jaga hutan kita."
Di hutan mangrove yang secara swadaya ditanam Agus bersama 9 orang lain sejak 2001, telah tercatat ada 300 ekor Bekantan. "Bekantan 300 ekor terakhir 2018, lebih banyak betina karena Bekantan sukanya poligami," katanya.
Mangrove Center Graha Indah ini sendiri berada di area perumahan rakyat yang memiliki luas 150 hektare. Selama 18 tahun, Agus dan pengelola hutan bakau telah memperluas hutan bakau dari 40 hektar menjadi 150 hektar.
Bekantan merupakan hewan yang gemar untuk memakan pucuk-pucuk daun muda pohon bakau. Tak hanya itu, Bekantan juga memakan berbagai jenis buah, bunga, kulit pohon, serangga, dan kepiting.
Oleh karena itu, penerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Joko Widodo dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2017 mengingatkan selain Bekantan, akan ada satwa khas Kalimantan lain yang juga terancam pembangunan ibu kota baru. Satwa khas yang dimaksud adalah Lutung Merah.
"Dengan berkurangnya hutan, akan berdampak pada habitat, perilaku juga akan berubah. Di Tahura bukit Soeharto, termasuk di kawasan sungai Wain adalah banyak satwa endemik. Ada Lutung Merah," jelas Agus.
Agus juga menambahkan jika Pulau Kalimantan terkenal dengan wilayah hutannya yang luas. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk membangun ibu kota dengan melihat dari sisi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. "Kalimantan ini sudah terkenal dengan hutannya, mungkin konsepnya nanti kota hijau atau pemerintahan hijau, berkelanjutan, saling mendukung," tutupnya.
(wk/wahy)