Menteri Pertanian memperkirakan defisit produksi beras di Kaltim mencapai 60 ribu ton. Hal ini menjadi masalah serius lantaran penduduk di Kaltim diperkirakan melonjak tajam seiring rencana pemindahan Ibu Kota.
- Elvariza Opita
- Senin, 02 September 2019 - 10:37 WIB
WowKeren - Semenjak terpilih sebagai wilayah calon Ibu Kota baru Republik Indonesia, Provinsi Kalimantan Timur terus menjadi sorotan publik. Profil wilayah tersebut menjadi pertanyaan banyak kalangan, salah satunya soal status pangan di sana.
Belakangan terungkap bahwa provinsi tersebut diproyeksikan masih mengalami defisit produksi beras. Tak tanggung-tanggung, Kaltim dikabarkan kekurangan beras hingga mencapai 60 ribu ton atau setara sepuluh ribu hektare lahan. Padahal, seperti diketahui, beras merupakan bahan pangan utama masyarakat Indonesia.
Kondisi ini diungkapkan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Amran menekankan bahwa pemerintah perlu menyiapkan pasokan bahan pangan di Kaltim lebih awal sebelum pemindahan Ibu Kota mulai terlaksana pada 2024 mendatang.
Sebab, menurutnya, Kaltim akan mengalami lonjakan penduduk pada masa pemindahan Ibu Kota tersebut. Apabila tak segera ditangani, Amran khawatir akan ada persoalan untuk sektor hortikultura yang memiliki masa panen lebih cepat selama 2-3 tahun.
Kendati demikian Amran memastikan persoalan tersebut sudah menemui solusi. Gubernur Kaltim, Isran Noor, mengaku masih memiliki lahan seluas 50 ribu hektare untuk lahan pertanian. Hanya saja perlu bantuan alat berat dari pemerintah pusat untuk memanfaatkan lahan tersebut.
"Namun masih minus tinggal beras 60 ribu ton, setara 10 ribu hektare. (Tapi) tadi saya sudah bicarakan dengan Gubernur Kaltim dan ternyata masih punya lahan 50 ribu hektare," jelas Amran, Sabtu (31/8). "Jadi perkara itu selesai. Kami tinggal kirim alat berat ekskavator sepuluh unit."
Lebih lanjut, Amran mengaku siap mendorong 12 kabupaten di sekitarnya untuk melakukan klasterisasi produk pangan. Pembagian klaster ini berguna untuk memasok bahan-bahan pangan sesuai kebutuhan.
"Pertama tim turun dan kami melakukan diskusi, kami petakan dalam bentuk klaster," imbuhnya, dilansir dari Kabar 24, Senin (2/9). "Kami membangun pembibitan di Kalimantan Timur tahun ini. Disesuaikan agroclimate dan agroculture masyarakat setempat."
Sementara itu, terkait dengan sumber daya manusia (SDM) untuk mengelola lahan itu, Amran mengaku siap membantu dengan memberikan penyuluhan. Lagipula, menurutnya, dengan adanya kemajuan teknologi, sektor pertanian menjadi sangat terbantu.
Selain soal defisit produksi beras, tanah di Kaltim juga memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Namun Amran meyakini kondisi itu bukan halangan. Sebab, menurutnya, sudah ada bibit yang bisa beradaptasi dengan lingkungan tersebut.
(wk/elva)