Aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel di Jolo, Filipina, pada 27 Januari 2019 lalu diketahui menewaskan 23 orang yang mayoritas merupakan jemaat gereja.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 06 September 2019 - 16:52 WIB
WowKeren - Polri memastikan bahwa pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel di Jolo, Filipina, pada 27 Januari 2019 lalu adalah pasangan suami istri warga negara Indonesia (WNI). Identitas pasutri ini dipastikan lewat tes DNA dengan sisa darah yang tertinggal di TKP.
"Sudah (pasti WNI), akurat," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, pada Jumat (6/9). "Kalau DNA tingkat akurasinya 90 persen."
Pasutri tersebut bernama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh. Keduanya merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Makassar, Sulawesi Selatan. Pasutri tersebut juga diketahui pernah dideportasi dari Turki pada 2017 silam.
"Hasil uji DNA kejadian bom yang ada di Gereja Katedral Jolo itu sudah diketahui hasil DNA-nya, sudah keluar identik bahwa pelaku bom itu atas nama yang laki-laki RR dan yang perempuan adalah istrinya atas nama U," terang Dedi. "Identik DNA tersebut dengan ayah dan ibu mereka dengan juga DNA yang ditemukan di TKP."
Selain itu, Dedi juga menjelaskan bahwa pasutri tersebut masuk ke Filipina melalui jalur ilegal sejak Desember 2018, sehingga otoritas setempat tak dapat melacak mereka. Pasutri tersebut juga sempat dicuci otak sebelum melakukan aksi bom bunuh diri.
"Rekam jejak yang bersangkutan, pernah mengikuti doktrinasi," tutur Dedi. "Pencucian otak, penanaman nilai paham radikalisme."
Diketahui, insiden bom bunuh diri di Jolo, kota besar di Provinsi Sulu tersebut menewaskan 23 orang yang mayoritas merupakan jemaat gereja. 102 orang lainnya mengalami luka-luka.
Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Año, lantas mengungkapkan bahwa 2 WNI lah bertanggung jawab dalam peristiwa pengeboman gereja tersebut. "Yang bertanggung jawab (dalam serangan ini) adalah pembom bunuh diri Indonesia. Namun kelompok Abu Sayyaf yang membimbing mereka, dengan mempelajari sasaran, melakukan pemantauan rahasia dan membawa pasangan ini ke gereja," terang Año dilansir BBC pada Jumat (1/2).
Polri akhirnya bekerja sama dengan pihak Filipina untuk melakukan penyelidikan kasus bom bunuh diri ini. Hingga akhirnya keluar hasil tes DNA yang positif menyatakan pelaku bom bunuh diri ini adalah sepasang WNI.
(wk/Bert)