Polisi Bongkar Kelompok Perusuh di Balik Demo Mahasiswa, Sebut Polanya Mirip 22 Mei
Nasional

Kerusuhan yang terjadi di belakang Kompleks Parlemen, Senayan, pada Selasa (24/9) malam justru dilakukan oleh sekelompok pemuda tanpa jaket almamater.

WowKeren - Mahasiswa diketahui melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR sejak Senin (23/9) kemarin. Kerusuhan pun terjadi di luar Gedung DPR usai aksi demonstrasi mahasiswa pada Selasa (24/9) malam.

Polisi lantas menduga ada pihak yang mendompleng aksi mahasiswa ini. Kapolres Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi, juga menyebut bahwa pola yang dilakukan oleh kelompok perusuh ini mirip seperti aksi massa hasil Pilpres pada 22 Mei 2019 lalu.

"Ini yang demo bukan lagi mahasiswa, tetapi perusuh," jelas Hengki dalam keterangannya pada Rabu (25/9). "Ini polanya mirip 22 Mei."

Menurut Hengki, aksi demo mahasiswa tersebut disusupi oleh sekelompok orang yang ingin mengacaukan situasi. Para pelaku disebutnya melakukan provokasi untuk menyulut tindakan anarkistis. "Diduga massa liar yang sengaja datang membuat kerusuhan," ujar Hengki.


Diketahui, Pos Polisi Slipi, Jakarta Barat, sempat dirusak massa. Pos Polisi tersebut dilempari molotov hingga terbakar. Polisi lantas menangkap seorang pelajar berinisial RP yang kala itu membawa molotov. "Dia dari Bekasi datang ke Jakarta hanya untuk merusuh," ungkap Hengki.

Sementara itu, kerusuhan yang terjadi di belakang Kompleks Parlemen, Senayan, pada Selasa (24/9) malam justru dilakukan oleh sekelompok pemuda tanpa jaket almamater. Padahal, seperti diketahui, mahasiswa yang terlibat dalam aksi dengan bangga mengenakan jaket almamater mereka.

Massa perusuh itu pun tak meneriakkan tuntutan seperti yang dilakukan para mahasiswa sebelumnya. Tanpa gentar mereka terus melemparkan batu dan benda tumpul lain ke arah Kompleks Parlemen.

Senada dengan pihak kepolisian, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah juga telah mengemukakan dugaan "sosok penyusup" dalam aksi tersebut. Menurutnya kerusuhan ini sengaja diciptakan demi menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Kalau ini saya lihat ada serangan begitu," ujar Fahri. "Memang ada saya dengar, ancaman untuk presiden supaya tidak dilantik 20 Oktober. Dilantiknya kan di gedung ini."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait