Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus memantau dan melayangkan kritik terkait ajakan untuk mengikuti aksi 'Mujahid 212 Selamatkan NKRI' kepada para pelajar.
- Wahyu
- Sabtu, 28 September 2019 - 11:37 WIB
WowKeren - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah melayangkan kritikannya terkait adanya ajakan untuk mengikuti Aksi Mujahid 212 pada pelajar yang diadakan pada hari Sabtu (28/9) di Istana Negara, Jakarta. Kini KPAI terus berusaha memantau keterlibatan anak-anak maupun pelajar dalam aksi yang bertajuk "Mujahid 212 Selamatkan NKRI".
Komisioner KPAI Jasra Putra telah melakukan pengawasan dan mengumpulkan data seputar keterlibatan anak-anak yang mengikuti Aksi Mujahid 212. Menurut data yang berhasil dikumpulkan hingga hari ini, KPAI telah menemukan sejumlah anak-anak yang mengikuti aksi dan disebutkan telah datang ke Jakarta dari kemarin dengan menggunakan truk. Beberapa anak-anak ini juga diketahui datang tanpa membawa uang dan tidur di aspal.
"Kita melakukan pengawasan untuk mengumpulkan data dan info sesuai tugas dan fungsi yang kita punya, memastikan anak ini dilindungi dan ada yang tanggung jawab," kata komisioner KPAI Jasra Putra kepada wartawan, Sabtu (28/9). "Ini anak-anak ada yang kelelahan, datang dari kemarin. Ada yang tidur di aspal. Mereka bilang tidak punya uang, ngeteng, datang (ke Jakarta) naik truk."
Tak hanya mengumpulkan data dan info, pihak KPAI juga menurunkan sejumlah anggotanya untuk turun langsung ke lapangan saat Aksi Mujahid 212. Hal ini dilakukan untuk memastikan kondisi anak-anak yang mengikuti "Aksi Mujahid 212" terlindungi dan aman. Pihak KPAI juga melakukan koordinasi dengan sejumlah penanggung jawab aksi agar anak-anak ini diberikan sejumlah fasilitas makan dan minum.
"Tujuan lain kita sampaikan juga ke koordinator aksi, apakah bisa anak-anak ini dibawa ke Monas karena di sana ada tempat teduh. Lalu difasilitasi makan, minum," jelas Jasra. "Kemudian tugas selanjutnya adalah bagaimana mereka pulang ini. Karena mereka tidak punya ongkos, dari mereka ada ratusan juga dari Kabupaten Bogor, dan daerah lain."
Sebelumnya KPAI telah melayangkan kritik setelah mengetahui adanya ajakan kepada para pelajar untuk mengikuti Aksi Mujahid 212 lewat narasi jihad. Ketua KPAI Susanto lantas mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk berusaha melakukan pencegahan jika ada anak usia sekolah yang akan mengikuti acara ini. Hal ini karena ditakutkan anak-anak akan terprovokasi terhadap narasi-narasi jihad dalam ajakan demonstrasi seperti yang telah tersebar di media sosial.
"Penggunaan narasi-narasi jihad untuk mengajak anak melakukan demonstrasi di jalanan merupakan hal yang kurang tepat dan perlu diluruskan," kata Susanto pada Jumat (27/9). "Apalagi usia mereka merupakan usia tumbuh kembang yg perlu dilindungi dari segala bentuk potensi negatif, termasuk kerentanan menjadi korban dari hal-hal yang tak terprediksi saat demonstrasi berlangsung."
(wk/wahy)