Sejumlah massa aksi Gejayan Memanggil Jilid 2 menerima pesan bertagar #gejayancarirecehan yang menyiratkan bahwa sejumlah massa aksi menerima uang dari seorang oknum.
- Wahyu
- Selasa, 01 Oktober 2019 - 14:14 WIB
WowKeren - Aksi Gejayan Memanggil Jilid 2 baru saja dilaksanakan pada Senin (30/9) kemarin di Yogyakarta. Meskipun aksi demonstrasi tersebut berjalan damai, akan tetapi massa aksi masih menerima provokasi sejumlah oknum.
Provokasi tersebut dilakukan dengan disebarnya pesan kepada sejumlah peserta aksi. Pesan tersebut berisikan fitnah yang ditujukan kepada Riko Tude yang merupakan Koordinator Umum (kordum) Aliansi Rakyat Bergerak. Perlu diketahui, Aliansi Rakyat Bergerak merupakan inisiator dari adanya aksi Gejayan Memanggil baik yang pertama maupun yang kedua ini.
Pesan yang mengatasnamakan BEM UGM tersebut menyebutkan bahwa Riko menerima sejumlah uang atas aksi Gejayan Memanggil. Disertai tagar #gejayancarirecehan, pesan tersebut mengungkapkan bahwa uang itu ditransfer dari Senayan.
"Thanks to Mas Riko Tude, yang sudah menaikkan level kita menjadi ajang #gejayancarirecehan," tulis pesan tersebut. "Monggo diambil panggungnya Mas. Kalo sudah di transfer dari Senayan, bagi-bagi ke kita yaaa. #gejayancarirecehan."
Saat dikonfirmasi, Humas Aliansi Rakyat Bergerak, Nailendra mengatakan bahwa pihaknya telah bertanya kepada BEM UGM terkait pesan tersebut. Menurutnya, pihak BEM UGM mengaku bahwa mereka tidak pernah mengirim pesan tersebut.
Meskipun begitu, Nailendra mengatakan bahwa pihaknya tidak terprovokasi hal semacam ini dan menanggapi dengan santai. Ia memaklumi jika setiap pergerakan pasti ada sebagian pihak yang tidak senang.
"Kami sendiri menanggapi ya dengan santai aja sih," kata Nailendra yang dikutip Kumparan pada Selasa (1/10). "Namanya pergerakan pasti ada aja yang enggak senang. Yang penting kami terus koordinasi ke satu sama lain. Kami udah terbiasa check and recheck setiap info yang beredar."
Ketua BEM UGM, M Atiatul Muqtadir sendiri mengaku pihaknya tidak pernah mengirim pesan tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa pesan palsu yang mengatasnamakan BEM UGM ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, muncul SMS atas nama BEM KM UGM yang kemudian mendukung RUU KPK.
"Pertama saya secara resmi menyatakan BEM UGM tidak pernah memberikan informasi melalui SMS," jelasnya. "Ini bukan kali pertama di beberapa minggu lalu muncul SMS atas nama BEM KM UGM yang kemudian mendukung RUU KPK. Sudah jelas sikap kami menolak RUU KPK tersebut."
(wk/wahy)