Begini Nasib Pengungsi Wamena Pasca Kerusuhan, Derita Diare dan Gatal-Gatal
Nasional
Demo Rasisme Papua

Nasib pengungsi Wamena pasca kerusuhan terlihat cukup memprihatinkan. Tak hanya berusaha melawan rasa takut, mereka juga dihadapkan oleh berbagai penyakit.

WowKeren - Para pengungsi Wamena ini kembali dihadapkan dengan sejumlah permasalahan baru setelah terjadi kerusuhan pada Senin (23/9) lalu. Menurut laporan yang ada, para pengungsi ini telah menderita berbagai penyakit akibat lokasi pengungsi yang tidak nyaman dan serba terbatas.

Para pengungsi ini dilaporkan mulai mengalami diare dan gatal-gatal akibat tempat yang mereka tinggali tidak begitu bersih. Selain itu beberapa pengungsi juga telah mengeluhkan penyakit batuk dan demam.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan jika saat ini pengungsi telah rentan mengalami penyakit. "Kondisi pengungsian yang tidak nyaman dan serba terbatas menyebabkan pengungsi rentan mengalami penyakit," kata Harry Hikmat pada Kamis (3/10).

Berdasarkan data berobat yang berhasil dikumpulkan sejak 23 September sampai 2 Oktober 2019, terdapat 1.864 orang yang menjalani perawatan dengan rawat inap sebanyak delapan orang. Harry merinci di Poskes Kodim 1702/Jayawijaya sebanyak 921 orang berobat dan empat orang rawat inap.


Kemudian sebanyak 834 orang berobat di Klinik Polres Jayawijaya dan empat orang menjalani rawat inap. Sementara itu di KSA Yonif 756/WMS dua orang berobat, serta di Gereja GKI dan gereja Betlehem berobat di Puskesmas Wamena sebanyak 107 orang.

Kasus ini telah membuat Kementerian Sosial mengirimkan bantuan senilai Rp3,8 miliar. Bantuan tersebut berupa kebutuhan logistik, bantuan usaha ekonomi produktif dan santunan ahli waris bagi korban yang meninggal dunia.

Bantuan diberikan dalam berbagai bentuk. Berikut merupakan rinciannya yaitu penguatan dapur umum untuk 5.000 jiwa, 1.500 paket perlengkapan pakaian anak, 1.500 paket perlengkapan pakaian pria, 1.500 paket perlengkapan pakaian wanita, 2.500 matras, 1.500 tenda gulung/terpal, 2.500 selimut, 100 unit bantuan usaha ekonomi produktif.

Kerusuhan di Wamena, Papua sendiri diawali dengan unjuk rasa dari sejumlah warga Papua. Aksi unjuk rasa ini berakhir dengan ricuh setelah ada sejumlah massa yang bertindak anarkis dan diduga berasal dari golongan lain hingga menyebabkan kerusuhan di sekitar lokasi tersebut. Massa mengamuk dengan membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN dan beberapa kios usaha masyarakat.

Kerusuhan ini telah membuat puluhan nyawa melayang akibat perilaku kejam dan tidak beradab dari para demonstran dalam aksi berdarah tersebut. Hingga kini tercatat kerusuhan Wamena telah menewaskan sebanyak 33 orang. Mayoritas korban tewas diketahui berasal dari warga Papua pendatang.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts