Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo Ahmad M Ramli mengatakan bahwa nantinya peringatan dini bencana tak akan disampaikan lewat pesan singkat.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 04 Oktober 2019 - 11:00 WIB
WowKeren - Pemerintah tengah mewacanakan untuk menyiarkan peringatan dini bencana lewat televisi. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi jatuhnya korban lebih banyak.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Ahmad M Ramli mengatakan bahwa nantinya peringatan tentang bencana tak hanya disampaikan melalui pesan singkat. Begitu ada bencana, maka pemerintahan akan langsung "mengambil alih" saluran televisi tersebut.
"Jadi nanti peringatan dini tidak hanya melalui pesan singkat ke masing-masing ponsel," kata Ramli di Banten seperti dilansir dari Antara, Jumat (4/10). "Tetapi juga televisi. Begitu ada bencana, langsung televisinya 'diambil alih' oleh peringatan dini bencana itu."
Mengambil alih saluran yang dimaksud, adalah benar-benar mengambil alih program televisi, bukan melalui tulisan berjalan. Adapun sistem semacam ini seperti yang sudah diterapkan di Jepang.
Saat ini, Pemerintah Jepang tengah berencana memberikan bantuan untuk bantuan bencana. Ramli mengusulkan agar bantuan tersebut tidak diberikan dalam bentuk hibah uang namun infrastruktur untuk peringatan dini bencana.
"Saya katakan jangan kasih uang tapi infrastruktur, yang akan terhubung dengan jaringan seluler dan televisi," tutur Ramli. "Otomatis jika terjadi gempa akan terhenti acara di TV, sama seperti di pesawat saat ada pemberitahuan."
Hal tersebut, dikatakan Ramli, akan bisa benar-benar diterapkan secara efektif jika siaran TV digital sudah terwujud secara menyeluruh. Dengan saluran itu tentu akan jauh lebih hemat karena satu kanal bisa untuk 12 saluran TV. "Kami sedang bergerak ke arah TV digital," lanjut Ramli.
Kominfo, dikatakannya, selalu berupaya secepat mungkin untuk melakukan pemulihan jaringan seluler pasca terjadinya bencana. "Setelah bencana, kami selalu hitung berapa banyak Base Transceiver Station atau disingkat BTS yang terdampak. Setiap hari kita lakukan pembaharuan, apakah berfungsi atau tidak," ujar dia.
Ramli kemudian mencontohkan ketika terjadi bencana tsunami di Selat Sunda beberapa waktu lalu. Hanya dalam selang waktu dua hari, pihak Kominfo sudah bisa memulihkan jaringan telekomunikasi yang ada.
(wk/zodi)