Juru Bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa selama Pemilu, Prabowo tidak membayar maupun mengorganisir buzzer.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 04 Oktober 2019 - 11:50 WIB
WowKeren - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko belum lama ini berbicara mengenai buzzer-buzzer yang aktif di media sosial selama Pemilu 2019 berlangsung. Pernyataan Moeldoko tersebut rupanya mendapatkan respons dari Juru Bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak.
Dahnil menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengorganisir buzzer-buzzer di media sosial. Sebab menurutnya, Prabowo tidak perlu semua itu. Untuk itu, ia mempersilakan Moeldoko untuk melakukan penertiban.
"Pak Prabowo tidak pernah sama sekali mengorganisir dan membayar buzzer, dan kita merasa tidak perlu," tegas Dahnil, Kamis (3/10). "Silakan saja (ditertibkan), kan para pengamat sosial media dengan berbagai alat canggihnya bisa mendeteksi hal tersebut."
Sebelumnya, Moeldoko dalam pernyataannya menilai bahwa buzzer-buzzer yang ada saat Pemilu perlu untuk segera ditertibkan mengingat kontestasi Pilpres tersebut sudah selesai. Menurut Dahnil, Moeldoko dengan pernyataan yang semacam itu justru menunjukkan bahwa kubu Joko Widodo alias Jokowi lah yang selama ini mengorganisir buzzer. Oleh sebab itu, ia menantang Moeldoko untuk menertibkan buzzer-buzzer tersebut.
"Justru statement Pak Moel itu menerangkan ada pengorganisiran buzzer oleh pihak sana," kata Dahnil. "Jadi, silakan ditertibkan saja Pak Moel."
Sebelumnya, Moeldoko menepis anggapan bahwa buzzer di media sosial yang pro-pemerintah "dikomandani" kantornya. Justru, Moeldoko menilai para buzzer perlu ditertibkan. "Saya pikir memang perlu (ditertibkan). Kan ini kan yang mainnya dulu relawan, sekarang juga pendukung fanatik," ucap Moeldoko di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (3/10).
Moeldoko mengatakan bahwa buzzer-buzzer tersebut tak ingin sosok yang diidolakannya diserang. Ketika idolanya diserang, mereka akan bereaksi. Menurutnya, masalah buzzer merupakan persoalan kedua belah pihak, bukan hanya salah satu.
"Contohnya begini, bukan saya maksudnya, para buzzer itu tidak ingin idolanya diserang, idolanya disakitin. Akhirnya masing-masing bereaksi," terang Moeldoko memberi contoh. "Ini memang persoalan kita semua, juga kedua belah pihak, bukan hanya satu pihak. Kedua belah pihak."
(wk/zodi)