Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengaku sedih usai tahu Prabowo Subianto bergabung dengan pemerintahan Jokowi. Pasalnya, Prabowo adalah rival Jokowi di Pemilu 2019 yang lalu.
- Nidya Putri
- Rabu, 30 Oktober 2019 - 12:24 WIB
WowKeren - Pelantikan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) di Kabinet Indonesia Maju memang mengejutkan beberapa pihak. Bahkan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera pun mengaku sedih saat mengetahui hal tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Mardani saat menjadi pembicara dalam diskusi publik The Indonesian Forum di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/10). "Saya sedih Pak Prabowo gabung (ke pemerintah) karena ini membuat tingkat frustrasi publik tinggi yang menuju kepada apatisme," ujarnya.
Anggota DPR RI ini pun mengaku jika dirinya merasa sedih karena pada pemilihan umum (pemilu) 2019 lalu tingkat partisipasi publik tertinggi dalam sejarah sesudah reformasi mencapai 82 persen. Justru dengan bergabungnya Prabowo ke pemerintahan nantinya akan membuat antusiasme publik untuk memilih pada pemilu menurun. "Kalau begini, yah, sama aja," katanya.
Meski begitu, PKS akan tetap menghormati keputusan Prabowo untu, bergabung ke pemerintahan tersebut. Mardani juga mengatakan jika Prabowo tak secara resmi meminta izin kepada PKS, tetapi sempat bertemu dengan Presiden PKS Sohibul Iman dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri. "Kita hormati, hargai dan doakan (Prabowo) tapi PKS tetap oposisi," tegasnya.
Hal ini dikarenakan sentimen negatif masyarakat terhadap pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin menguat lima tahun ke depan. Karena itulah PKS semakin yakin untuk menjalankan fungsi oposisi meskipun kekuatan di pihak oposisi tidak terlalu banyak.
"Kalau kami sendirian (oposisi), tetap saja menjalankan peran dan fungsi kami," teran Mardani. "Walaupun secara kalkulasi matematis agak berat, tapi hukum sentimen publik sekarang menguat."
Karena meskipun kekuatan oposisi di parlemen lemah namun kritik dari masyarakat meluas, PKS tidak akan merasa sendirian. Karena itu PKS tetap berharap bila papol yang pernah bergabung dengan koalisi Prabowo-Sandi di Pemilu 2019 tetap mantap di oposisi.
Namun, Mardani menekankan bahwa PKS tidak memposisikan diri sebagai pembujuk parpol-parpol itu untuk menjadi oposisi. "Saya bilang berharap. Tapi PKS tidak dalam posisi mengajak mereka. Partai punya kebebasan dalam menentukan sikap," pungkasnya.
(wk/nidy)