Juru Bicara PA 212 menegaskan agenda reuni massa yang digelar pada 2 Desember mendatang tidak akan menjadi ajang provokasi dalam memecah persatuan Indonesia.
- Ruth Meliana
- Selasa, 05 November 2019 - 12:00 WIB
WowKeren - Gerakan Pemuda (GP) Ansor meminta agar reuni PA 212 pada 2 Desember mendatang bisa berlangsung dengan damai dan tidak menjadi ajang untuk melakukan provokasi. Pihak PA 212 pun meminta masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan agenda reuni tersebut.
Juru bicara PA 212 Novel Bamukmin mengatakan ajang reuni tersebut akan digunakan sebagai cara untuk menjaga persatuan Indonesia. Novel berjanji bahwa aksi PA 212 akan berlangsung dengan tenang dan damai.
"Alhamdulillah sudah tiap tahun kita buat dengan super damai, rumput saja kita jaga, apalagi persatuan," kata Novel Bamukmin kepada wartawan, Senin (4/11). "Dan ini ajang membuktikan Islam dengan jutaan orang berkumpul, ranting saja tidak ada yang patah."
Lebih lanjut Novel mengatakan jika pihaknya telah menyiapkan keamanan demi mencegah provokator di lapangan saat menggelar reuni 212. Menurut Novel, acara tersebut merupakan acara suci sehingga pihaknya tidak akan menoleransi para provokator yang berniat mengadu domba.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan kita sudah siap menaruh orang di titik-titik tertentu untuk mencegahnya dari provokator yang setiap acara reuni selalu ada yang coba memprovokasi namun para laskar bisa mengatasi," ujar Novel. "Ini acara maulid dan munajat sehingga kami tidak mau dikotori oleh para provokator yang ingin mengadu domba anak bangsa."
Novel juga menanggapi soal peluang kehadiran Rizieq Shihab pada acara reuni tersebut. Sejauh ini, Novel menyebutkan jika pihaknya masih belum memastikan kehadiran Rizieq. "Semuanya masih dibahas," kata Novel.
Sebelumnya Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyatakan tidak mempersoalkan jika PA 212 kembali menggelar reuni seperti tahun lalu. Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak untuk menggelar suatu kegiatan. Walau begitu Yaqut mengimbau agar acara reuni tersebut tidak dijadikan ajang provokasi.
"Namanya pengajian, namanya pengajian itu ajak lah kebaikan, tenang, damai, jangan memprovokasi," kata Yaqut Cholil Qoumas. "Jangan pengajian itu malah menjadi ajang provokasi, itu nggak baik, justru akan menghilangkan substansi pengajian itu sendiri."
(wk/lian)