Dicopot dari Kursi Dirut Garuda Gara-Gara Harley, Ini Sosok Ari Askhara di Mata Karyawan Pelindo III
Nasional
Dirut Garuda Selundupkan Harley

Sebelum menjadi Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara diketahui sempat memimpin PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III (Persero). Ini sepak terjang Ari di mata karyawan Pelindo III.

WowKeren - Menteri BUMN Erick Thohir diketahui telah memecat Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra alias Ari Askhara. Karier Ari di Garuda tamat lantaran dirinya terlibat dalam kasus penyelundupan komponen motor Harley Davidson dan sepeda Brompton.

Sebelum berkarier di Garuda Indonesia, Ari diketahui sempat memimpin PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III (Persero). Lantas, bagaimana sepak terjang Ari di Pelindo III?

Dilansir Kompas.com, salah seorang karyawan yang telah lama berkarier di Pelindo III membongkar sepak terjang Ari selama memimpin perusahaan tersebut. Menurut sumber Kompas.com yang tak disebutkan namanya itu, di Pelindo III Ari melakukan hal yang kurang lebih sama dengan yang ia lakukan di Garuda. Ada sejumlah kebijakan yang dinilai baik untuk karyawan, namun ada pula yang dianggap kontroversial.

"Memang benar ada kebijakan beliau seperti penambahan cuti hamil, jam kerja, soal pakaian kerja. Kemudian soal remunerasi karyawan," terang sumber tersebut. "Di aspek itu, saya sampaikan itu salah satu kebijakannya yang bagus."

Namun, kebijakan Ari yang memberikan tambahan cuti 5 bulan bagi karyawan hamil belakangan ini telah direvisi. Direksi Pelindo III dan serikat karyawan mengubah kebijakan tersebut menjadi 3 bulan.

"Dulu pas beliau cuti hamil 5 bulan. Tapi rupanya itu juga kurang efektif diterapkan. Karena kalau cuti 5 bulan itu kan terlalu lama," ungkapnya. "Sehingga operasional agak terhambat di sisi lain ada beberapa kebijakan butuh keputusan cepat."


Lebih lanjut, sistem remunerasi (pemberian gaji tambahan) di Pelindo III yang dinilai sangat tertutup di era Ari juga menjadi sorotan. Sumber tersebut mencontohkan bahwa dengan beban kerja, level jebatan, dan bidang yang sama, jumlah remunerasi yang diterima bisa sangat jomplang.

"Remunerasi itu kriterianya sangat tertutup. Jadi muncul anggapan sangat kental soal like and dislike atau sesuai selera beliau saat itu," tuturnya. "Jadi tidak ada kriteria yang jelas menurut kami penilaiannya. Karena ini sangat tertutup. Beliau juga misalnya ketika bicara di depan karyawan sangat bijak dan humble, tapi di jajaran di bawahnya langsung karakternya sangat keras."

Selain itu, karyawan Pelindo III juga menyoroti kebijakan Ari tentang perampingan. Semasa Ari menjabat, sejumlah karyawan kerap dipindahkan dan bahkan dicopot dari jabatan tanpa alasan yang jelas.

"Ini salah satu kebijakan yang sampai saat ini masih terasa. Jadi beliau menerapkan struktur yang dia bawa dari perbankan diterapkan di pelabuhan dengan merampingkan struktur organisasi struktural di lingkungan Pelindo III secara besar-besaran," terangnya. "Padahal Pelindo III bisnis modelnya adalah pelayanan jasa dengan infrastruktur, bukan jasa keuangan."

Meski demikian, ada sisi baik dari masa kepemimpinan Ari di Pelindo III. Yakni penetrasi pasar baru yang dinilai cukup berhasil.

"Sisi baiknya Pak Ari, soal memperjuangkan pendapatan lewat mencari pasar-pasar baru, beliau bisa dikatakan fighter," pungkasnya. "Dia bisa push kompetitor-kompetitor di ke pelabuhan."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts