Menteri Agama Ancam Polisikan Pelarang Atribut Natal, Ini Kata PA 212
Nasional

Sebelumnya, Menteri Agama Fachrul Razi meminta agar masyarakat yang menemukan pelarangan yang berlebihan jelang perayaan Natal untuk melaporkannya ke pihak berwajib.

WowKeren - Menteri Agama Fachrul Razi menyoroti kerapnya pelarangan penggunaan atribut Natal yang dikeluarkan oleh pihak-pihak tertentu. Fachrul menilai bahwa hal itu merupakan masalah kecil, namun juga kerap menghebohkan publik.

Oleh sebab itu, Fachrul pun meminta agar masyarakat yang menemukan pelarangan yang berlebihan jelang perayaan Natal untuk melapor ke pihak berwajib. Salah satu contohnya adalah larangan atribut Natal di pusat perbelanjaan atau mal.


"Saya garis bawahi, kalau ada yang merasa melihat berlebihan dia enggak main hakim sendiri, dia melapor ke instansi yang berwenang," tutur Fachrul di Kantor Kementerian Agama pada Rabu (11/12). "Itu bisa polres, polsek, camat sama-sama mendatangi mal lihat yang mana yang berlebihan."

Menanggapi pernyataan Fachrul, Persaudaraan Alumni (PA) 212 pun buka suara. Juru bicara PA 212, Haikal Hassan, mengaku tak mau ambil pusing soal pernyataan Fachrul itu.

"Jalani saja terserah Bapak Menteri. Suka-suka Bapak Menteri. Apalah kami yang tiada arti," terang Haikal dilansir CNN Indonesia pada Jumat (13/12). "Hanya pesakitan yang terus tersingkir. Silakan perbuat dan lakukan sesuka bapak yang menurut bapak baik."

Haikal mengaku bahwa PA 212 menilai penggunaan atribut Natal bukanlah urusan umat Islam. Ia menegaskan bahwa itu merupakan urusan umat agama lain masing-masing.

Meski demikian, Haikal juga mengimbau agar umat Islam tidak ikut menggunakan atau memasang atribut Natal. Ia juga mengimbau agar umat Islam tak ikut merayakan hari Natal.

"Jangan juga ikut campur dengan menggunakan segala atribut. Jangan juga ikut campur untuk bersama-sama dalam perayaan Natal. Jadi jangan ganggu orang mau ke gereja, tapi jangan juga ikut masuk ke gereja," ujar Haikal. "Sebagaimana kalian semua orang Kristen juga tidak ikut masuk ke dalam masjid untuk beribadah."

Lebih lanjut, Haikal menolak dicap intoleran karena hal tersebut. Pasalnya, toleransi tidak bisa disamakan dengan menjalankan kepercayaan agama lain. "Kalau setiap agama dengan cara menghormatinya ikut campur dalam kegiatan ibadah, ini bukan toleransi, ini mencampuradukkan agama," pungkas Haikal.

You can share this post!

Related Posts