Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir mengatakan bahwa keberadaan Wiranto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) tidak mewakili Partai Hanura.
- Anis Rosella Pitaloka
- Senin, 16 Desember 2019 - 14:10 WIB
WowKeren - Wiranto baru saja melaksanakan serah terima jabatan (sertijab) dari Wantimpres periode 2014-2019 pada Senin (16/12). Dengan begitu, pendiri sekaligus mantan Ketua Umum Partai Hanura itu pun resmi menjabat sebagai Ketua Wantimpres periode 2019-2024.
Meskipun begitu, Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir mengatakan bahwa keberadaan Wiranto sebagai anggota Wantimpres tidak mewakili Partai Hanura. Sebab, Inas menilai bahwa mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan itu tidak lagi memiliki ikatan emosional dengan Hanura karena ambisi kekuasaannya.
"Wiranto tidak lagi memiliki ikatan emosional dengan Hanura dan tidak lagi memiliki akar yang kuat di partai ini," kata Inas yang dilansir Kompas pada Senin (16/12). "Sehingga Wiranto is no longer a part of Hanura because his ambition."
Menurut Inas, ambisi Wiranto untuk berkuasa sudah terlihat sejak pemerintahan Jokowi periode 2014-2019. Ia menganggap jika Wiranto menukar jabatan menteri yang diemban oleh dua kader Hanura menjadi satu jabatan, yakni Menko Polhukam. "Dia mempertontonkan kuatnya syahwat berkuasa tersebut dengan cara menukar jabatan menteri yang diemban oleh dua orang kader Hanura dengan jabatan Menko Polhukam untuk dirinya sendiri," ujarnya.
Inas mengatakan jika ambisi kekuasaan Wiranto itu semakin terlihat ketika ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Wantimpres. Ia pun mempertanyakan tanggung jawab Wiranto terhadap Partai Hanura. Menurutnya, sebagai seorang negarawan, seharusnya Wiranto kembali ke Partai Hanura untuk membenahi partai yang kini dipimpin oleh Oesman Sapta Odang (OSO). "Agar Hanura dapat kembali duduk di Senayan pada tahun 2024 yang akan datang," tuturnya.
Selain itu, Inas mengatakan jika seharusnya Wiranto mencontoh sikap OSO yang menolak jabatan Wantimpres demi membenahi Hanura. "Karena Bang OSO lebih mencintai Partai Hanura ketimbang duduk menjadi pejabat tinggi negara," tuturnya.
Sebelumnya, OSO memang sempat mengatakan bahwa ia ditawari untuk menjadi Wantimpres oleh Presiden Jokowi. Namun, karena syarat untuk menjadi Wantimpres adalah tidak boleh memimpin partai, maka ia dengan halus menolak jabatan tersebut.
"Untuk menjadi anggota saja dari Wantimpres itu harus tidak menjabat jabatan pimpinan parpol," ungkap OSO usai bertemu dengan Pratikno pada Jumat (13/12). "Karena persyaratan itu, saya memutuskan untuk sementara akan terus bersama teman-teman seperjuangan ini."
(wk/aros)