Presiden Jokowi akhirnya buka suara soal polemik soal perairan Natuna yang melibatkan Tiongkok. Dari pernyataan yang disampaikan, Jokowi mengatakan jika RI akan bersikap tegas dan tak berkompromi terkait masalah tersebut.
- Nidya Putri
- Sabtu, 04 Januari 2020 - 16:19 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara terkait polemik Tiongkok soal perairan Natuna, Kepulauan Riau yang menjadi sorotan beberapa waktu terakhir. Dalam pernyataan yang disampaikan oleh Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman, Jokowi mengatakan jika pemerintah tidak akan berkompromi dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia.
"Tak ada kompromi dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia," kata Jokowi melalui Fadjroel, Sabtu (4/1). Meski begitu, Jokowi tak membantah bila pemerintah tetap memprioritaskan kebijakan diplomatik damai dalam menyelesaikan polemik dengan Negeri Tirai Bambu itu.
"Berdasarkan arahan presiden, pemerintah Indonesia bersikap tegas sekaligus memprioritaskan usaha diplomatik damai dalam menangani konflik di perairan Natuna," katanya. Ia mengatakan bahwa langkah diplomatik damai tetap mencerminkan sikap Jokowi untuk tidak berkompromi pada kedaulatan Indonesia. "Ya benar," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno L. Marsudi menegaskan bahwa Indonesia tidak akan pernah mengakui Sembilan Garis (klaim atas sembilan titik imaginer) Tiongkok di perairan Natuna, Kepulauan Riau. Retno mengatakan batas wilayah itu merupakan klaim sepihak tanpa dasar hukum.
"Indonesia tidak pernah akan mengakui 9 dash line, klaim sepihak yang dilakukan oleh China yang tidak memiliki alasan hukum yang diakui oleh hukum internasional, terutama UNCLOS 1982," kata Retno, Jumat (3/1). Ia kemudian menjelaskan jika Tiongkok merupakan salah satu bagian dari UNCLOS (United Nations Convetion on the Law of the Sea) 1982.
Oleh karena itu, dia meminta Tiongkok wajib menghormati implementasi dari UNCLOS 1982. "Wilayah ZEE Indonesia telah ditetapkan oleh hukum internasional yaitu melalui UNCLOS 1982," ujarnya.
Sementara itu, TNI menyatakan sudah siap tempur terkait masuknya armada China awal pekan ini. Operasi siaga tempur dilaksanakan Koarmada 1 dan Koopsau 1.
Berdasarkan surat yang dirilis oleh Puspen TNI, alat utama sistem senjata (Alutsista) yang sudah disiapkan yaitu 3 kapal perang, 1 pesawat intai maritim, dan 1 pesawat Boeing TNI AU. Sedangkan dua KRI masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju Natuna.
(wk/nidy)