Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah akan terus mengamati kondisi geopolitik di Timur Tengah demi memantau perubahan dampak dari berbagai kejadian terhadap RI.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 09 Januari 2020 - 16:49 WIB
WowKeren - Hubungan geopolitik Iran dan Amerika Serikat diketahui tengah memanas. Ketegangan antar dua negara tersebut meningkat usai Iran menembakkan rudal balistik ke pangkalan militer AS yang berada di Irak pada Rabu (8/1) dini hari.
Pemerintah Indonesia lantas mewaspadai kenaikan harga minyak mentah dunia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak tersebut dapat mempengaruhi laju ekonomi RI.
"Kami lihat itu akan meningkatkan harga minyak," tutur Airlangga dilansir CNN Indonesia pada Kamis (9/1). "Bagi Indonesia, tentu kami akan melihatnya."
Meskipun ada potensi harga minyak naik, Airlangga tak serta merta memandangnya sebagai hal negatif. Pasalnya, kala harga minyak naik, maka nilainya akan mendekati harga minyak hasil campuran dengan minyak sawit mentah alias biodiesel.
"Di satu pihak akan ada perbedaan antara harga palm oil (minyak kelapa sawit) dan gas yang menyempit," ujar Airlangga. "Tetapi ada konsekuensi juga terhadap harga minyak di pasar."
Selain itu, Airlangga juga mengaku bahwa pemerintah akan terus mengamati kondisi geopolitik di Timur Tengah. Hal ini dilakukan untuk memantau perubahan dampak dari berbagai kejadian di Timur Tengah terhadap Indonesia.
"Tapi ini masih di awal jadi kami masih perlu melihat perkembangan selanjutnya," pungkas Airlangga. "Nanti tunggu saja."
Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno Marsudi mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan komunikasi dengan perwakilan mereka di negara Iran, Irak, serta kemungkinan negara tedampak lainnya. Contingency plan (rencana cadangan) bagi WNI yang tinggal di area konflik juga disebut Retno telah selesai.
Rencana yang tengah disiapkan adalah Pemerintah Indonesia telah membuka Crisis Center. WNI yang tinggal di negara terdampak konflik ini bisa menggubungi hotline Kemenlu jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuan.
"Sebagai antisipasi hotline semuanya sudah ada dirilisnya Kementerian Luar Negeri. Jadi kita juga mengeluarkan imbauan kepada Warga Negara Indonesia jika sewaktu-waktu memerlukan bantuan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi hotline yang ada," imbau Retno. "Terus kemudian di Kementerian Luar Negeri Kita juga sudah mengaktifkan Crisis Center. Sekali lagi ini adalah sebagai langkah antisipatif."
(wk/Bert)