Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendapatkan sejumlah laporan soal siswi SMAN 1 Sragen mendapat teror karena tak berhijab. Merespon laporan itu, Ganjar pun meminta pihak terkait memberi klarifikasi.
- Nidya Putri
- Jumat, 10 Januari 2020 - 15:45 WIB
WowKeren - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo baru-baru ini mendapatkan laporan terkait teror WhatsApp (WA) kepada salah seorang siswi tak berjilbab di SMA Negeri 1 Gemolong Sragen. Merespon laporan tersebut, Ganjar pun meminta pihak terkait untuk melakukan klarifikasi.
Hal ini disampaikan oleh Ganjar melalui akun Facebooknya. "Banyak yg tanya kepd sy soal teror WA ke siswi tak berjilbab di SMA 1 Gemolong Sragen. Dinas P&K Prov bsk pg akan klarifikasi ke sekolah," ujarnya melalui akun Facebook pribadinya, Jumat (10/1). "Mari kita hormati & saling belajar dg baik, tidak memaksa apalagi meneror. Saya akan ajak bicara siswa, guru & ortu."
Sontak saja, postingan Gubernur Jateng itu menjadi sorotan warganet. Tak sedikit yang merasa marah dengan adanya teror yang terkesan memaksa dan mengandung unsur cyber bullying.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen, Suparno membenarkan adanya teror tersebut. Namun, Suparno telah mengatakan jika pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut.
"Benar, di SMA Negeri 1 Gemolong ada kejadian yang menurut saya kecil tapi tetap hati-hati dan ditindaklanjuti," ungkap Suparno. "Ada siswi kami kelas X yang belum berjilbab. Satu dari 946 anak, setelah itu ada salah satu anggota ekstrakurikuler rohis (kerohanian Islam), mengingatkan."
Suparno menuturkan kegiatan rohis sesuai dengan visi sekolah, yakni menjadikan warga sekolah beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Dia menyebut anak yang disebut melakukan teror ini mengingatkan siswi berinisial S agar memakai jilbab.
"Kelihatannya anak ini belum bisa menerima saat ini, tapi saya yakin suatu saat akan berjilbab juga setelah dapat hidayah itu," sambungnya. "Namanya juga anak ya, mungkin awalnya ladakan (ledek-ledekan), lalu njiwit-njiwit (cubit-cubitan), akhirnya sampai (mengeluarkan) pernyataan yang saya akui agak kemajon (keterlaluan), agak terlalu. Anak kami ini jadi tertekan, galau, resah sehingga matur (bilang) ke orang tuanya."
Di lain sisi ayah korban, Agung Purnomo menginginkan agar pelaku peneroran tersebut diberikan sanksi tegas agar kasus serupa tak lagi terulang. Ia bahkan meminta agar pihak sekolah mengambil langkah nyata dan tidak asal mendamaikan begitu saja.
"Kalau penyelesaian ya belum, yang saya anggap selesai itu gini, ini ada anak yang sudah berani melakukan tindakan yang over," tegas Agung. "Seharusnya ini PR sekolah, tindakannya seperti apa, penyelesaiannya seperti apa."
Pasalnya, akibat dari teror tersebut putri Agus menjadi takut bergaul dan diperlakukan berbeda oleh gurunya. Bahkan Agung menyebut jika putrinya terus menangis dan tidak berani berangkat ke sekolah karena kasusnya viral di media sosial.
(wk/nidy)