5 WNI Kembali Diculik Kelompok Abu Sayyaf, Pemerintah Minta Pertanggungjawaban Malaysia?
Nasional

Lima WNI kembali diculik oleh kelompok Abu Sayyaf di perairan Malaysia. Atas kejadian tersebut apakah pemerintah RI bakal meminta pertanggung jawaban dari Malaysia?

WowKeren - Tiga warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi sandera kelompok teroris Filipina Abu Sayyaf telah berhasil dibebaskan dengan bantuan Filipina. Namun sepertinya peristiwa tersebut tidak menghentikan aksi kelompok teroris tersebut.

Pasalnya, pada Kamis (16/1) lalu, lima WNI yang bekerja di Negeri Sabah, Malaysia, diculik. Penculikan ini terjadi di perairan Tambisan Tungku Lahad Datu, N Sabah, Malaysia.

Peristiwa tersebut lantas membuat pemerintah Indonesia dinilai bisa meminta pertanggungjawaban pemerintah Malaysia. Sebab, pemerintah RI disebut memiliki kesepakatan bersama dengan Malaysia dan Filipina untuk menjaga masing-masing wilayah lautnya dari perompak.

"Yang kita tahu kan kejadian ini (penculikan) kan nggak sekali, ya. Yang dulu kan pernah, kan ada kejadian, terus kemudian mendorong ketiga negara, Malaysia, Filipina dan Indonesia untuk sepakat melakukan patroli bersama di wilayah perairan itu," ungkap Dosen Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Arie Afriansyah, Minggu (19/1). "Nah akhirnya, ya, terlihat pemerintah melakukan patroli bersama."

Lebih lanjut, Arie memprediksi terjadinya penculikan tersebut bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena pelaku penculikan yang telah membaca pola patroli yang diterapkan. "Dan kedua, mungkin saja, apa namanya, kekuatan patroli juga perlu ditingkatkan, karena ini ternyata kejadian lagi," katanya.


Arie juga turut menyoroti hal yang menarik dalam peristiwa ini dimana penculikan WNI kembali terjadi di perairan Malaysia. Ia pun menilai ada kemungkinan pemerintah Malaysia tak bisa menjaga wilayah lautnya.

"Kita tahu kan patroli bersama itu adalah patroli masing-masing Angkatan Laut (AL) di wilayahnya masing-masing, ya nggak," paparnya. "Berarti kan di sini kita bisa lihat, berarti wilayah Malaysia 'kurang terjaga' berarti."

"Nah berarti pemerintah RI bisa mempertanyakan kepada pemerintah Malaysia, mengapa itu bisa terjadi?" sambungnya. "Dan apakah patrolinya berkurang? Apakah patrolinya ada suatu miss koordinasi? Atau bagaimana?"

Sebelumnya diketahui jika informasi soal penculikan lima WNI tersebut diperoleh melalui siaran tertulis aparat kepolisian Tambisan, disebutkan lokasi penculikan tidak jauh dari kasus yang menimpa Muhammad Farhan (27) cs pada 23 September 2019, tepatnya di perairan Tambisan Tungku Lahad Datu.

Pemerintah RI sendiri telah berkoordinasi dengan pihak Filipina karena kapal itu disebut bergerak dari arah Filipina. Plt Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah mengatakan kasus hilangnya kapal ikan milik Malaysia yang berawak 8 WNI di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, terkonfirmasi sebagai kasus penculikan.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait