Joserizal Jurnalis meninggal dunia di rumah sakit Harapan Kita, Jakarta, pada Senin (20/1) dini hari. Semasa hidupnya, Joserizal aktif sebagai relawan di daerah peperangan untuk memberikan pertolongan medis.
- Bertilia Puteri
- Senin, 20 Januari 2020 - 12:34 WIB
WowKeren - Pendiri tim kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), Joserizal Jurnalis, dikabarkan meninggal dunia pada Senin (20/1) dini hari, sekitar pukul 00.38 WIB. Joserizal menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit Harapan Kita, Jakarta.
"Mohon dimaafkan segala kesalahan dan kekhilafan beliau," demikian kutipan di laman resmi mer-c.org. "Terima kasih atas segala doa dan perhatian dari kerabat, teman, relasi, saudara2 seperjuangan selama beliau sakit hingga akhir hayatnya."
Joserizal sendiri meninggal di usia 56 tahun. Ia akan disemayamkan di Pendopo Silaturahim, Jalan Kalimanggis Raya Nomor 90, Cibubur Jakarta Timur.
Diketahui, Joserizal adalah seorang dokter spesialis orthopedi (bedah tulang) lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Semasa hidupnya, Joserizal aktif sebagai relawan di daerah peperangan untuk memberikan pertolongan medis.
Beberapa wilayah konflik yang pernah disambangi oleh Joserizal adalah Maluku, Mindanao, Afghanistan, Irak, hingga Gaza. Ia bahkan mendapat amanah untuk mendirikan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina.
"Serangan Israel jelas mengganggu. Tapi kita jalan terus," ungkap Joserizal dilansir Liputan 6 SCTV. "Karena kalau pembangunan itu berhenti bisa tambah stres."
Joserizal menilai bahwa menjadi relawan di daerah konflik lebih menantang dibandingkan di tempat biasa. "Kalau menjadi relawan di tempat biasa, sudah banyak. Tapi kalau di daerah konflik, kita menjadi satu-satunya orang atau bagian dari yang jarang itu," terang Joserizal.
Dalam melakukan tugasnya di derah konflik, Joserizal mengakui bahwa dirinya kerap menemui keterbatasan peralatan. Saat di Maluku misalnya, ia terpaksa mengamputasi kaki pasien menggunakan gergaji kayu. Sedangkan kala di Afghanistan, Joserizal sempat kehabisan jarum suntik.
Diketahui, Joserizal mendirikan MER-C pada 1999, saat terjadi konflik kemanusiaan di Ambon, Maluku. Dari fenomena tersebut, Joserizal dan kawan-kawannya mendirikan MER-C yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis.
MER-C juga disebut ingin ingin menyiarkan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan ke seantero dunia. Joserizal menilai bahwa pertolongan harus diberikan berdasarkan urgensi, tanpa melihat latar belakang agama, etnik, maupun politik.
(wk/Bert)