Dikritik Soal Program 'Kampus Merdeka', Nadiem Makarim Justru Tuai Pujian Menristek
Nasional

Program terbaru Mendikbud Nadiem Makarim 'Kampus Merdeka' tengah mendapatkan pujian dari Menristek Bambang Brodjonegoro. Ia bahkan berjanji akan mendukung kebijakan tersebut.

WowKeren - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim terus mengeluarkan gebrakan-gebrakan baru untuk dunia pendidikan. Gebrakan baru itu tentunya sukses mengundang decak kagum.

Ada pun program terbaru yang diusung oleh Nadiem adalah program bertajuk "Kampus Merdeka". Di mana ada total empat poin yang ditegaskan dalam program tersebut. Salah satunya adalah kebijakan agar mahasiswa bisa magang sampai total 40 sks alias setara tiga semester.

Program terbaru Nadiem tersebut lantas mendapatkan pujian dari Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro. Ia bahkan berjanji akan mendukung kebijakan tersebut.

Bambang menjelaskan dengan adanya kebijakan magang tiga semester bisa dimanfaatkan setiap mahasiswa ke depannya untuk penelitian. “Misalkan mereka bisa magang ikut penelitian langsung atau kuliah kerja nyata di daerah. Itu nanti akan berpotensi meningkatkan jumlah peneliti di masa depan,” ujarnya di Gedung BPPT II, Jakarta Pusat, Senin (27/1).

Lebih lanjut, Bambang mengatakan jika peneliti biasanya paling banyak datang dari mahasiswa. Namun, saat ini agak susah untuk mencari mahasiswa yang punya ketertarikan dalam penelitian. Penyebabnya, akses penelitian di perkuliahan yang terbatas.


"Jika mahasiswa menghabiskan seluruh waktunya selama delapan semester di kampus saja, maka yang benar-benar jadi peneliti adalah orang yang dari awal sudah niat meneliti," katanya. Bambang pun berharap agar model kebijakan dari Mendikbud Nadiem Makarim bisa membuka akses penelitian di perkuliahan menjadi lebih besar.

Ia bahkan berjanji ikut menyambut dan mendorong agar penerima dana hibah penelitian bisa melibatkan mahasiswa S1 yang sudah masuk kategori boleh magang atau terlibat sebagai asisten peneliti. “Jadi bagi kami ini positif untuk memperkuat penelitian dan membuat universitasnya menjadi terdiversifikasi tidak hanya fokus di pengajaran tapi juga penelitian,” tegasnya.

Sayangnya, program Mantan Bos GoJek tersebut tidak mendapatkan respon serupa dari perguruan tinggi swasta (PTS). Ketua Asosiasi PTS Indonesia (APTSI), Budi Djatmiko, mengkritik keras kebijakan "milenial" Nadiem tersebut.

Menurutnya Nadiem hanya bercermin dari kondisi mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Pasalnya PTN di Indonesia memang dilengkapi dengan jaringan luas di dunia industri, sesuatu yang tak dimiliki oleh sebagian besar PTS.

"Dia harus paham, 95 persen itu PTS dan dia enggak tahu 85 persen itu (PTS) kecil," ujar Budi, dilansir dari CNN Indonesia pada Sabtu (25/1). "Jangan lihat Nadiem, lahir dari keluarga berkecukupan, kuliah di Harvard, lihat kampus Harvard, enggak bisa."

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait