Kepala Badan Nasional dan Penganggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius membuka kemungkinan bagi para mantan napi terorisme untuk dipekerjakan di BUMN.
- Bertilia Puteri
- Senin, 10 Februari 2020 - 09:18 WIB
WowKeren - Upaya pemerintah Indonesia dalam memberantas radikalisme masih berlanjut. Badan Nasional dan Penganggulangan Terorisme (BNPT) kini bahkan membuka kemungkinan untuk bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menanggulangi radikalisme.
Langkah yang dimaksud BNPT adalah membuka kemungkinan bagi para mantan napi terorisme untuk dipekerjakan di BUMN agar menjauh dari radikalisme. BNPT sendiri diketahui telah bekerjasama dengan Yayasan Pelita Harapan Bangsa (YPHB) untuk membantu mantan teroris di Indonesia mendapatkan pekerjaan.
YPHB sendiri disebut telah menggandeng Kingdom Business Community (KBC) yang memiliki sedikitnya 15 ribu anggota pengusaha swasta dalam negeri. Selain bekerjasama dengan pihak swasta tersebut, BNPT pun mengaku tak menutup kemungkinan akan menyalurkan para mantan napi terorisme ke perusahaan BUMN. Hal ini disampaikan oleh Kepala BNPT Suhardi Alius.
"Kalau sudah baik kenapa tidak (ke BUMN)?" tutur Suhardi di Jakarta pada Minggu (9/2). "Jadi kami kan yang ikut dampingi mereka."
Lebih lanjut, Suhardi meyakinkan para pengusaha untuk tidak khawatir menerima mantan napi teroris sebagai karyawan. Pasalnya, seleksi untuk para mantan napi teroris tersebut akan dilakukan dengan sangat ketat.
Suhardi pun menjelaskan bahwa syarat mantan napi teroris untuk disalurkan menjadi pekerja bukan hanya telah menyelesaikan masa hukuman saja. Namun, tutur Suhardi, mereka juga harus menjalani seleksi lagi demi memastikan bahwa para eks napi tersebut telah benar-benar sadar dan tak lagi terpapar paham radikal.
Nantinya, seleksi ini akan melibatkan banyak pihak terkait. Di antaranya adalah BNPT, Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri, psikolog, Kejaksaan Agung, hingga lembaga pemasyarakatan tempat para napi teroris tersebut ditahan. "Jadi ya tidak bisa main-main. Jadi yang disalurkan mereka yang sadar dan benar-benar baik," ungkap Suhardi.
Menurut Suhardi, mantan napi teroris bisa terbilang efektif dalam mencegah radikalisme baru. Mereka bahkan telah banyak diundang untuk menceritakan pengalamannya.
"Ini contoh sekarang banyak napi terorisme diundang di dalam dan luar negeri untuk berbicara soal pengalamannya," pungkas Suhardi. "Mereka itu lebih efektif menyampaikan pesan kepada kelompok yang rentan."
(wk/Bert)