Seperempat es di benua Antartika telah mencair, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) lantas memberikan peringatan mengenai tenggelamnya pulau-pulau di Tanah Air.
- Ruth Meliana
- Kamis, 27 Februari 2020 - 12:23 WIB
WowKeren - Badan Antariksa Amerika (NASA) belum lama ini mempublikasikan gambar Pulang Elang yang berada di semenanjung timur laut Benua Antartika. Dalam gambar hasil publikasi tersebut, gelombang panas rupanya telah membuat es yang menyelimuti Antartika mulai mencair.
NASA lantas menyampaikan jika suhu gelombang panas yang terjadi selama sembilan hari di Antartika mencapai 64,9 derajat Fahrenheit. Akibatnya, sebesar 4 inchi lapisan salju Pulau Elang telah mencair atau sekitar 20 persen dari total akumulasi salju musiman di pulau tersebut.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) lantas menanggapi terkait isu mencairnya seperempat es di salah satu pulau di ujung benua Antartika tersebut. Menurut Walhi, mencairnya es tersebut berpotensi akan membuat Indonesia terkena dampaknya.
Walhi menyatakan jika mencairnya benua Antartika berpotensi untuk menenggelamkan pulau-pulau kecil di negara kepulauan seperti Indonesia. Pasalnya, mencairnya lapisan es secara otomatis akan membuat permukaan air laut semakin meningkat.
"Menurut saya yang harus menjadi perhatian serius itu, penyebab dari es di Antartika mencair. Jika tidak dihentikan maka permukaan air laut pasti akan meningkat," kata Kepala Departemen Advokasi Walhi, Zenzi Suhadi seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (26/2). "Dan konsekuensi paling berbahaya bagi negara-negara kepulauan seperti Indonesia, pulau-pulau kecil akan berisiko tenggelam."
Lebih lanjut Zenzi menjelaskan fenomena melelehnya lapisan es tersebut lantaran adanya peningkatan suhu yang signifikan di Bumi. Pelepasan emisi terbesar salah satunya berasal dari polusi dan industri di negara-negara maju.
Walhi lantas mendesak Pemerintah Indonesia untuk turun tangan dalam menghentikan dampak dari pencairan es di Antartika. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai macam pencegah perusakan lingkungan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
"Kalau mau menghentikan dampak dari pencairan es ini, Indonesia harus terlibat secara global dan domestik," jelas Zenzi. "Di mulai dari Indonesia dengan menghentikan deforestasi dan pengeringan kawasan gambut."
Zenzi lantas mengatakan secara domestik Pemerintah Indonesia dapat berupaya melakukan penyelamatan pesisir dan pulau-pulau kecil. Diantaranya dengan melalukan penyelamatan serta pengembangan ekosistem gambut dan hutan tropis.
Sementara dalam level global, Pemerintah Indonesia bisa mengikuti ketentuan Paris Agreement (Persetujuan Paris) yang mengawal reduksi emisi karbon dioksida. "Sudah ada Paris Agreement dan Indonesia sudah meratifikasi. Artinya, pemerintah harus melaksanakan beberapa kebijakan untuk menurunkan emisi mencapai 27 persen," pungkas Zenzi.
(wk/lian)