Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta menyebut jika antrean panjang mengular terjadi di 4 stasiun sedangkan di 9 stasiun lainnya masih aman.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 16 Maret 2020 - 15:06 WIB
WowKeren - Adanya pembatasan terhadap waktu operasional kereta Moda Raya Terpadu (MRT) berbuntut pada antrean penumpang yang mengular. Antrean tersebut bahkan memanjang hingga ke luar area stasiun.
Terkait hal ini, pihak MRT angkat bicara. Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin, mengatakan jika pihaknya akan segera melakukan evaluasi.
Antrean mengular sampai ke luar area stasiun terlihat di Stasiun MRT Fatmawati, Cipete Raya, dan Dukuh Atas. "Kami tengah melakukan evaluasi antrean calon penumpang memasuki 4 stasiun MRT kami pagi hari ini yaitu stasiun Lebak Bulus, stasiun Fatmawati, stasiun Cipete Raya dan stasiun Dukuh Atas BNI," kata Kamaluddin dilansir Kumparan, Senin (16/3). "Sementara ini antrean di 9 stasiun MRT lainnya masih normal."
Kamaluddin belum bisa memastikan sampai kapan evaluasi tersebut akan dilakukan. Namun yang jelas, pihaknya akan membahas hasil evaluasi tersebut bersama dengan Pemprov DKI Jakarta. "Sedangkan social distancing di dalam stasiun dan di dalam kereta juga sudah berjalan. Hasil evaluasi tersebut akan kami review bersama pemerintah dalam waktu dekat," ujar Kamaluddin.
Skema pembatasan tersebut sesuai arahan dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Pembatasan tersebut dilakukan dalam rangka antisipasi penyebaran virus corona mengingat stasiun dinilai lebih berpotensi menularkan virus ini.
Menurutnya, gerbong kereta lebih berpotensi menularkan virus daripada di luar. Pasalnya, di dalam gerbong kereta sifatnya tertutup sehingga tidak memungkinkan adanya sirkulasi udara.
"Sebenarnya pertimbangannya kalau risiko infeksi di dalam kereta lebih besar dibandingkan di luar karena ber-AC tertutup," jelas Kamaluddin. "Jadi ini perlu dipahami juga oleh penumpang gitu."
Sebelumnya, Anggota Komisi V DPR RI Irwan menyebut kebijakan yang diambil pemerintahan kurang efektif. "Pemerintah ingin dua-duanya aman dan dijalankan, ingin pertumbuhan ekonomi tidak terganggu dan di sisi lain ingin corona ditangani. Akhirnya, dua-duanya tidak fokus," kata dia dilansir CNN Indonesia, Senin (16/3).
(wk/zodi)