Begini Kisah Haru Tenaga Medis Indonesia Pertama yang Meninggal Gara-Gara Virus Corona
AP
SerbaSerbi
COVID-19 di Indonesia

Tak hanya orang awam, korban meninggal akibat virus corona juga berasal dari paramedis. Salah satunya adalah Ninuk, seorang perawat dari RSCM (RS Dr. Cipto Mangunkusumo).

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) di Indonesia benar-benar membuat masyarakat resah. Pasalnya hingga kini jumlah kasus positif COVID-19 terus mengalami peningkatan, seiring dengan korban meninggal yang juga makin bertambah.

Tak hanya orang awam, korban meninggal akibat virus corona juga berasal dari paramedis yang menangani pasien. Salah satunya adalah Ninuk, seorang perawat dari RSCM (RS Dr. Cipto Mangunkusumo).


Dilansir dari BBC Indonesia, Ninuk meninggal dunia pada 12 Maret lalu setelah mengalami demam tinggi hingga 39 derajat Celsius, kelelahan, diare, dan sesak napas. Perawat berusia 37 tahun ini menjadi tenaga medis pertama yang dilaporkan meninggal akibat COVID-19.

Suami Ninuk, Arul, rupanya tak segan membagikan sebuah kisah haru di balik dedikasi istrinya untuk ikut mengatasi pandemi corona di Tanah Air. "Saya hidup untuk orang yang saya sayangi dan mati untuk orang yang saya sayangi, termasuk (untuk) profesi saya," tutur Arul, mengenang kalimat yang pernah diucapkan oleh Ninuk sebelum meninggal.

Arul juga bercerita bahwa Ninuk sempat ragu apakah ia bisa bertahan usai divonis positif COVID-19. "Yah , aku positif Covid-19... masih bisa hidup nggak aku ya?" tanya Ninuk, berdasarkan cerita dari sang suami.

Namun sayangnya kondisi Ninuk yang dirawat di IGD RSCM usai dinyatakan positif terinfeksi corona tak kunjung membaik. Ia mengalami kesulitan bernapas hingga harus dibantu ventilator. Sejak itu keluarga dilarang bertemu dengan Ninuk yang akhirnya dirawat di rumah sakit rujukan COVID-19, RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara.

Ninuk lantas dinyatakan meninggal usai diisolasi selama dua hari. Arul dan kedua anaknya merasa begitu terpukul lantaran mereka tak bisa melihat jenazah Ninuk untuk terakhir kalinya, mengingat prosedur pemakaman pasien virus corona yang tak boleh sembarangan. Diketahui, jenazah korban meninggal akibat corona harus dibungkus plastik, tak dimandikan, dan kemudian langsung dikubur tanpa dihadiri pelayat.

"Saya sebagai ayahnya, saya bilang mama itu pahlawan. Mereka bangga punya ibu seperti itu, yang secapek apapun setelah dinas, nggak pernah marah atau menunjukkan dia lelah," tutur Arul kala memberikan pengertian pada anak-anaknya.

Dalam lanjutan keterangannya, suami Ninuk menduga bahwa sang isri terpapar virus corona saat bertugas di RSCM atau RS Grogol. Menurut sepengetahuannya, Ninuk tidak diperlengkapi dengan APD (alat pelindung diri) saat menangani pasien.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts