Pelindung Wajah Jadi Perlengkapan Wajib di Tengah Wabah Corona, Benarkah Masyarakat Memerlukannya?
Nasional

Pelindung wajah atau face shield saat ini menjadi benda wajib yang dicari oleh orang-orang di tengah wabah corona karena dapat mencegah penularan virus mematikan tersebut. Lantas apakah benar masyarakat memerlukannya?

WowKeren - Berbagai upaya dilakukan masyarakat untuk mencegah penularan virus COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menganjurkan untuk menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menerapkan pola hidup sehat serta menggunakan masker saat keluar rumah.

Namun, beberapa waktu terakhir kerap didapati akun-akun di media sosial yang menjual topi pelindung wajah dan mata dari plastik seperti face shield guna mencegah penularan virus melalui droplets. Lantas apakah benar masyarakat perlu menggunakan topi pelindung wajah tersebut? Apakah penggunaan face shield benar-benar efektif untuk mencegah penularan virus mematikan tersebut.

Menanggapi hal ini, Ahli Epidemioogi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dr Pandu Riono, MPH, PhD mengatakan bahwa produk face shield berbahan mika atau plastik dinilai dapat mencegah wajah dari droplets. "(Menggunakan topi mika) bisa cegah terekspos terhadap droplets," ujar Pandu dilansir Kompas, Rabu (15/4).

Jual Face Shield

Twitter


Namun, topi tersebut lebih disarankan agar digunakan oleh tenaga kesehatan (nakes) dan petugas yang melayani publik. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan pekerjaan mereka memiliki risiko terpapar virus lebih besar jika dibandingkan dengan masyarakat biasa.

Sementara itu, Epidemiolog dan Kandidat PhD dalam bidang Global Health Security dan Pandemi Griffith University Australia, dr Dicky Budiman mengatakan bahwa face shield atau topi mika sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan untuk masyarakat. Sebab, masyarakat umum tidak berhubungan langsung dengan orang sakit.

"Face shield khusus dibuat untuk paramedis karena kontak yang dekat dan lama dengan pasien. Pasien tentu akan batuk, bersin, atau berbicara yang memunginkan terlontarnya cipratan," terang Dicky. "Nah, fungsi lapisan atau face shield adalah untuk mencegah cipratan itu. Selain tentunya tetap memakai alat pelindung diri (APD) dan masker bedah atau N95 untuk tenaga medis."

Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat umum lebih utama dan lebih penting untuk menjaga jarak dan memakai masker kain, serta rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. "Saya khawatirnya nanti malah jadi ada timbul rasa aman semu, sehingga abai terhadap jaga jarak dan bermasker kain," lanjutnya.

Dicky kemudian menyarankan agar pemakaian face shield diprioritaskan untuk beberapa golongan seperti bayi baru lahir, pekerja kesehatan, polisi, pedagang jalanan, petugas atau pekerja pengirim makanan (delivery). "Pekerja sosial juga sebaiknya mengenakan, asal face shield yang bukan khusus untuk paramedis ya. Pekerja sosial ini misalnya pengurus di panti jompo," pungkasnya. "Tapi, tentu jika masyarakat umum memakainya tidak ada larangan, tetap ada juga manfaatnya, tapi tetap bukan sesuatu yang diwajibkan saat ini."

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait