Panen raya beras sudah mulai terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, harga bahan pokok pangan ini diketahui masih belum menurun. Apa penyebabnya?
- Ruth Meliana
- Rabu, 15 April 2020 - 15:56 WIB
WowKeren - Panen raya beras saat ini telah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, rupanya panen raya beras ini masih belum diikuti dengan turunnya harga bahan pokok pangan tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) telah memprediksi jika panen raya beras akan berlangsung hingga bulan Mei mendatang. Di bulan April ini, panen beras telah diprediksi akan mencapai 9,2 juta ton. Sementara di bulan Mei, panen beras di Indonesia kemungkinan mencapai 6,2 juta ton.
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh menjelaskan mengapa harga beras masih terbilang tinggi mesti telah memasuki panen raya. Saat ini, beras medium saja masih betah di atas Rp10.000 per kilogram (kg), sementara Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 9.450/kg.
”Lalu ini tren harga beras di tingkat konsumen memang melandai turun, tapi masih di atas HET,” kata Tri dalam Webinar Keterjangkauan Beras Bagi Masyarakat Prasejahtera Selama Pandemi COVID-19 (CIPS), Rabu (15/4). “Untuk beras medium kita masih di atas Rp 10.000/kg, sementara HET Rp 9.450/kg.”
Lebih lanjut Tri menjelaskan salah satu penyebab tingginya harga bahan pokok pangan ini karena permintaan beras juga begitu besar. Apalagi sejak virus corona mulai mewabah di Indonesia, pemerintah daerah kerap membeli beras ke Bulog dalam jumlah besar.
Pesanan tersebut kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang wilayahnya terkena aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akibatnya, harga beras masih tidak menurun karena suplai tinggi.
”Sekarang banyak kepala daerah yang membeli beras ke Bulog. Kemudian banyak lembaga-lembaga sosial untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya dalam rangka PSBB, atau mengantisipasi pandemi corona,” jelas Tri. “Jadi ini banyak permintaan. Jadi pada saat suplai tinggi, permintaan tinggi.”
Tri membeberkan jika penyaluran beras memang telah meningkat sejak Februari 2020 lalu hingga mencapai 250 persen. Realisasi penyaluran beras tersebut dilakukan melalui operasi pasar atau program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) dari Kementerian Perdagangan (Kemendag).
”Sesuai amanah Permendag, KPSH itu harusnya 2.000 ton/hari. Tapi sejak Februari realisasinya 5.000-7.000 ton/hari,” terang Tri. “Ini menarik. Karena musim panen, KPSH kita tinggi juga, artinya permintaan cukup tinggi.”
(wk/lian)