Mutasi virus corona (COVID-19) diteliti lebih lambat dari flu musiman biasanya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lantas menjelaskan sisi baiknya. Apa itu?
- Ruth Meliana
- Kamis, 16 April 2020 - 15:23 WIB
WowKeren - Virus corona (COVID-19) diteliti lebih lambat daripada flu musiman biasa seperti influenza. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lantas menjelaskan alasan mengapa mutasi virus corona lebih lambat.
Berdasarkan hasil studi dari University of California, virus corona bermutasi lebih lambat lantaran memiliki ukuran genom yang lebih besar ketimbang flu musiman. COVID-19 dijelaskan memiliki tingkat mutasi kurang dari 25 mutasi per tahun.
Peneliti LIPI, Sugiyono menjelaskan lebih lanjut. Menurutnya, tingkat mutasi virus corona lebih rendah ketimbang flu musiman, yang memiliki tingkat mutasi hampir 50 mutasi per tahun atau empat kali lebih cepat dari virus corona.
”Semakin panjang ukuran genom maka akan semakin rendah mutation rate-nya,” kata Sugiyono seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (15/4). “Sebagai perbandingan, ukuran genom SARS-CoV-2 isolate Wuhan Hu-1 adalah 29903 basa sedangkan ukuran genom H1N1 influenza virus adalah kurang dari setengahnya, yaitu sekitar 13500 basa.”
Lebih lanjut Sugiyono menjelaskan jika pada umumnya, virus yang memiliki material genetik memang memiliki tingkat mutasi yang lebih tinggi ketimbang DNA virus atau dibandingkan dengan organisme lain seperti bakteri dan protozoa. “Di antara RNA virus, virus corona sebetulnya cenderung lebih lambat mutasinya dibandingkan dengan virus influenza,” tutur Sugiyono.
Menurut Sugiyono, rendahnya tingkat mutasi virus corona ini justru bisa menjadi kabar baik. Pasalnya, para peneliti dapat melakukan proses pengembangan vaksin dengan tingkat efektivitas lebih cepat. Bahkan, peneliti dinilai tidak perlu terlalu cepat memodifikasi vaksin untuk mengikuti mutasi COVID-19.
”Lebih lambatnya mutasi virus corona ini memang disebut sangat potensial untuk melakukan pengembangan vaksin dengan efektivitas yang lebih tahan lama,” terang Sugiyono. “Paling tidak dibandingkan dengan virus influenza.”
Sebagai contoh adalah vaksin yang digunakan untuk melawan influenza. Vaksin tersebut akan ditinjau dalam jangka waktu tertentu agar tingkat efektivitas tetap terjaga. Jika tingkat efektivitas turun, maka vaksin tersebut perlu diperbarui agar antibodi bisa memblokir virus.
Sugiyo sendiri mengatakan sebagian besar mutasi memang bersifat netral sehingga tidak memiliki efek apapun pada tubuh. Namun, ada sejumlah mutasi yang akan menyebabkan perubahan protein virus sehingga vaksin tidak akan bekerja secara maksimal. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa manusia bisa terkena influenza lebih dari sekali.
”Apabila efektivitasnya turun, vaksinnya perlu diperbarui agar antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi dapat memblokir strain virus yang mungkin sudah mengalami mutasi,” kata Sugiyono. “Virus influenza mampu menghindari sistem kekebalan tubuh inang karena terus mengalami evolusi antigenik akibat seringnya mutasi yang terjadi.”
(wk/lian)