Pihak kepolisian sendiri telah mulai menindak pengendara yang melanggar aturan PSBB sejak Senin (14/4) kemarin. Para pengendara yang melanggar aturan PSBB pun diberikan surat teguran.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 17 April 2020 - 07:42 WIB
WowKeren - Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta kini telah genap berjalan selama seminggu. Diketahui, kebijakan ini dijadwalkan untuk terus berlangsung hingga Jumat (24/4) pekan depan.
Pihak kepolisian sendiri telah mulai menindak pengendara yang melanggar aturan PSBB sejak Senin (14/4) kemarin. Para pengendara yang melanggar aturan PSBB seperti tidak mengenakan masker atau kendaraan memuat orang lebih dari 50 persen kapasitas diberi surat teguran PSBB.
Kini, sejumlah warga Jakarta pun memberikan responsnya yang pro-kontra terhadap aturan berkendara selama PSBB yang telah berjalan. Sejumlah warga rupanya menilai bahwa selama sepekan ini aturan tersebut kurang efektif untuk menekan penyebaran virus corona (Covid-19) lantaran masih banyak orang yang tak mematuhinya.
"Menurut saya baik untuk pencegahan, tapi sepertinya kurang efektif," tutur seorang warga Jakarta Selatan bernama Ryan, dilansir Otosia pada Jumat (17/4). "Beberapa ruas jalan masih ramai, ada juga mobil yang terisi penuh."
Meski kurang efektif karena masih banyak yang melanggar, ia menilai bahwa pembatasan kendaraan tersebut sebenarnya sudah terbilang cukup tepat untuk mencegah menyebarnya Covid-19. Ryan menyebut bahwa kebijakan tersebut dapat membuat warga jadi enggan keluar rumah.
Hal senada juga disampaikan oleh seorang warga Jakarta Utara bernama Rossario. Ia menilai bahwa kebijakan ini harus ditegakkan karena luasnya penyebaran virus corona.
"PSBB jadi langkah aman mengingat tidak serta merta mematikan sektor ekonomi," ujarnya. "Bagus juga karena pelanggar PSBB gak kena tilang melainkan hanya diberi teguran."
Sementara itu, seorang wargta Jakarta Timur bernama Josephine menilai PSBB kurang efektif. Pasalnya, banyak masyarakat yang masih harus keluar rumah untuk bekerja.
"Di beberapa halte Transjakarta dan stasiun KRL masih ramai. Tapi ya itu terpaksa karena mereka harus ke kantor," ujar Josephine. "Ada beberapa pekerjaan yang memang tidak bisa dibawa ke rumah."
(wk/Bert)