Faktor Epidemiologi Buat Surabaya Dinilai Layak Ajukan PSBB, Begini Penjelasannya
Nasional

Faktor epidemiologi membuat kota Surabaya dinilai sudah layak untuk mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai langkah melawan wabah corona.

WowKeren - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya masih belum mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Padahal, kasus virus corona (COVID-19) di Surabaya sudah sangat tinggi dan masuk zona merah di Indonesia.

Hingga Jumat (17/4), pasien positif virus corona di Indonesia telah mencapai 264 orang. Korban meninggal dunia akibat COVID-19 mencapai 24 orang dan sebanyak 43 orang dinyatakan sembuh.

Sementara itu, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) di Surabaya mencapai 634 orang dan orang dalam pemantauan (ODP) ada 1.658 orang. Hal ini menempatkan Surabaya sebagai wilayah dengan kasus COVID-19 tertinggi di Provinsi Jawa Timur.

Meski demikian, Surabaya masih belum mengajukan PSBB. Berbeda dengan Malang yang telah terlebih dahulu mengajukan PSBB ke Pemprov Jatim. Hal ini lantas mendapat sorotan dari Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Jatim, Joni Wahyuadi.

Joni mengungkapkan jika wilayah Surabaya justru lebih pantas mengajukan PSBB ketimbang Malang. Apalagi, melihat kajian epidemiologi saat ini, Surabaya bahkan dinilai layak untuk menerapkan PSBB.

”Jadi salah satu syaratnya dari PSBB itu adalah pada kajian epidemiologi,” jelas Joni di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (17/4). “Di Permenkes itu disebutkan harus ada kenaikan yang signifikan, peningkatan yang signifikan day by day.”

”Kalau kota Malang ada memang peningkatan day by day,” sambungnya. “Cuma beberapa hari ini kota Malang itu flat. Artinya tidak signifikan lagi kenaikannya.”

Kajian epidemiologi sendiri tidak hanya dilihat dari peningkatan kasus saja, namun juga ketersediaan sarana fasilitas kesehatan di daerah yang mengajukan PSBB. Menurut Joni, wilayah rumah sakit di Malang masih bisa menampung pasien virus corona.


”Artinya RS masih mampu memberikan layanan seandainya saat itu juga harus masuk RS,” jelas Joni. “Mungkin kalau yang lebih pas itu Surabaya. Kalau di Malang masih mampu RS-nya.”

”Saya beri contoh di Surabaya yang merupakan episentrum dari provinsi Jawa Timur,” sambungnya. “Jadi hasilnya beda antara Malang dengan Surabaya dari tinjauan epidemiologi. Kalau di Surabaya kita lihat grafiknya itu peningkatan yang cukup tajam.”

Hal berbeda justru terjadi di Surabaya yang merupakan episentrum penyebaran virus corona di Provinsi Jawa Timur. Melihat lonjakan kasus di Surabaya setiap harinya, ditakutkan jika rumah sakit di ibu kota Jatim ini nantinya tidak akan sanggup menampung pasien COVID-19 lagi.

”Kemudian, perbandingan antara pusat layanan yang ada saat ini, dibanding dengan kenaikannya itu juga,” terang Joni. “Seandainya semuanya masuk rumah sakit, pasti tidak cukup nanti. Jadi kasusnya linear naik terus.”

”Kemudian dibanding pusat layanan kesehatan, itu juga seharusnya pasien yang harusnya dirawat seandainya semuanya dirawat di RS itu RS-nya ndak cukup lagi,” sambungnya. “Itu sudah merupakan kondisi yang signifikan dari kajian epidemiologisnya.”

Kajian epidemiologi ini masih akan terus dilakukan oleh sejumlah ahli. Mereka menawarkan sejumlah saran, pertama harus menyediakan layanan kesehatan yang komprehensif untuk mengantisipasi lonjakan berikutnya.

”Kedua, harus dilakukan studi epidemiologi terus menerus oleh ahli,” tutur Joni. “Ini harus terus menerus supaya bisa dikembalikan. Ini sudah diketahui betul komposisi antara jumlah Pasien PDP maupun yang confirm sudah ndak cukup lagi.”

”RS-nya kalau tidak ada penambahan sudah ndak cukup lagi total bed isolasi,” sambungnya. “Karena pasien harus dirawat di ruang isolasi bertekanan negatif, ini sudah tidak ada tawar menawar.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait