Presentase Orang Tanpa Gejala Corona Di RI Mengejutkan, Penanganannya Bikin ‘Galau’
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Presentase orang tanpa gejala yang positif terinfeksi virus corona (COVID-19) di Indonesia sangat mengejutkan, cara penanganannya cukup membuat ‘galau’ pemerintah.

WowKeren - Kasus virus corona (COVID-19) di Indonesia masih mengalami peningkatan signifikan setiap harinya. Berdasarkan data covid19.go.id hingga Rabu (6/5) siang, kasus virus corona di Indonesia telah mencapai 12.071 orang. Sebanyak 2.197 dinyatakan sembuh dan 872 orang meninggal dunia.

Dari ribuan kasus COVID-19 di Indonesia, terungkap ada sebuah fakta mengejutkan. Hal ini adalah terkait presentase orang tanpa gejala (OTG) yang ternyata begitu tinggi dari sleuruh pasien virus corona.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo sempat mengatakan bahwa sebanyak 76 persen pasien positif COVID-19 di Indonesia merupakan OTG. “Presentasi OTG cukup tinggi. Sebanyak 76 persen pasien positif COVID-19 adalah OTG," ujar Doni dalam Pembukaan Musrenbangnas, Kamis (30/4) lalu.

Sementara itu, Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Rino mengatakan jika presentase OTG lebih tinggi. Menurutnya, sebanyak 86 persen pasien virus corona di Indonesia masuk dalam kategori OTG.

”Sebagian besar kasus merupakan OTG yang tidak perlu perawatan khusus,” kata Pandu seperti dilansir dari CNNIndonesia, Senin (4/5). “Hanya 3-4 persen pasien yang memerlukan perawatan khusus.”

Pernyataan itu juga disetujui oleh Peneliti Lembaga Biomolekuler Eijkman, Iqbal Elyazar. Ia lantas menunjukkan data kasus virus corona di berbagai negara dimana sekitar 80 persen pasien yang melalui tes merupakan orang tanpa gejala.

Iqbal mengatakan jika pasien corona yang masuk dalam kategori OTG tentunya sangat berbahaya lantaran sering tidak menyadari telah memiliki virus. “OTG sangat rawan menularkan jika tidak ada aturan yang mengatur kegiatan di ruang publik, terutama tempat rawan seperti KRL," jelas Iqbal.


Penanganan OTG di Indonesia sendiri masih menciptakan berbagai dilema oleh pemerintah. Sebagai contoh adalah saat melakukan uji spesimen virus corona, terjadi berbagai kendala seperti ketersediaan alat tes spesimen seperti PCR beserta reagen, serta rapid kit.

Padahal, Pemerintah Indonesia telah mendatangkan alat PCR dari Swiss untuk melakukan pemeriksaan corona di Tanah Air. Kementerian BUMN bahkan mengklaim jika datangnya alat PCR tersebut membuat Indonesia mampu melakukan tes hingga 10 ribu kali dalam sehari.

Tak disangka, sepekan sesudahnya pemerintah mengumumkan jika 37 laboratorium uji spesimen berhenti beroperasi akibat kekurangan reagen. “Beberapa lab terpaksa harus menghentikan aktivitasnya karena memang reagen-nya belum sampai," terang Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Corona, Achmad Yurianto saat konferensi pers, Selasa (21/4).

Selain masalah alat, pemeriksaan massal di Indonesia untuk melacak kasus corona dinilai akan menghabiskan anggaran negara. Oleh sebab itu, sejumlah ahli menyarankan pemerintah untuk memperbanyak kapasitas testing di wilayah dengan risiko penularan virus corona yang tinggi.

”Mahal sekali (persiapan tes massal), kita perlu meningkatkan testing pada subgroup yang berisiko,” saran Pandu. “Lalu melakukan isolasi orang yang positif baik bergejala dan yang tidak bergejala.”

Eijkmann juga memberikan saran serupa untuk menangani OTG. Menurut Iqbal, pemerintah tidak perlu melakukan tes PCR secara massal namun hanya perlu memfokuskan tes di sejumlah wilayah yang memiliki risiko tinggi penularan COVID-19 dan membatasi mobilitas penduduk saja di KRL.

”Karena pada periode pertengahan Maret, sekitar 1 juta orang per hari hilir mudik di Jabodetabek menggunakan KRL,” terang Iqbal. “Banyak kemungkinan untuk menyentuh permukaan di dalam gerbong kereta, mulai dari pintu, pegangan besi tangan dan sandaran.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts