Adanya wabah corona saat ini membuat tingkat kemiskinan RI berpotensi kembali ke level 12%. Angka tersebut sama persis dengan kondisi tahun 2011 silam ketika masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
- Nidya Putri
- Kamis, 07 Mei 2020 - 13:40 WIB
WowKeren - Adanya wabah corona yang masuk ke Indonesia mengakibatkan berbagai dampak. Salah satunya adalah Ekonomi negara mengalami penurunan sejak adanya wabah COVID-19.
Bila berlanjut seperti ini, maka tingkat kemiskinan di Indonesia berpotensi kembali ke level 12 persen. Angka ini sama persis dengan kondisi tahun 2011 silam ketika zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan jika pandemi virus corona yang berlangsung sekitar dua bulan membuat tingkat kemiskinan kembali mendaki. "COVID-19 pada Maret sampai Mei sudah menyebabkan lonjakan angka kemiskinan," ujarnya pada rapat virtual dengan Komisi XI DPR, Rabu (6/5). "Bayangkan COVID-19 hanya beberapa bulan, pencapaian penurunan kemiskinan dari 2011 ke 2020 ini mengalami reverse kembali."
Sayangnya, Sri Mulyani masih belum bisa mengungkap berapa data peningkatan jumlah penduduk miskin yang sudah berhasil didapat pemerintah. Begitu pula dengan estimasi tingkat kemiskinan ke depannya.
Namun, merujuk pada pernyataannya, tingkat kemiskinan bisa kembali ke kisaran 29 juta sampai 30 juta orang atau sekitar 12 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Pasalnya menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin pada Maret 2011 sebanyak 30,02 juta orang atau 12,49 persen dari total populasi Indonesia.
Lalu pada September 2011, jumlah penduduk miskin sekitar 29,89 juta orang atau 12,49 persen. Sementara pada Maret 2019, jumlah penduduk miskin sebanyak 25,14 juta orang atau 9,41 persen dari total populasi.
Jumlah penduduk miskin kemudian turun lagi pada September 2019 menjadi 24,79 juta orang atau 9,22 persen dari total populasi. Sedangkan kasus positif virus corona perdana di Tanah Air diumumkan pada Maret 2020.
Adanya pandemi corona ini bukannya tidak mungkin apabila jurang pendapatan antara si kaya dan si miskin menjadi semakin lebar (gini ratio). Pasalnya, pandemi corona memukul 40 persen sampai 50 persen masyarakat berpendapatan paling rendah.
Sementara sekitar 30 persen masyarakat dengan pendapatan tertinggi akan mengalami konsolidasi. "Jadi COVID-19 ini tidak ada diskriminasi, orang kaya, orang miskin, terpelajar, tidak terpelajar, semua kena Covid. Jadi gini ratio mungkin terdampak," tuturnya.
Peningkatan jumlah penduduk miskin dan gini ratio terjadi karena masyarakat kehilangan pekerjaan. Mulai dari yang menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hingga tak bisa melanjutkan usaha yang sudah dibangun. "Data Kementerian Ketenagakerjaan, angka pengangguran melonjak 2 juta hanya dalam 1,5 bulan," katanya.
(wk/nidy)