Alat Rapid Test yang Dipakai Warga Satu Desa di Bali Diduga Beri Hasil Positif Palsu
Nasional

Alat rapid test yang digunakan oleh warga Banjar Serokadan tersebut berjenis IgG/IgM COVID-19 dari mereka VivaDiag dengan nomor Lot No. 3097 dan diimpor dari perusahaan VivaCheck Biotech.

WowKeren - Warga Banjar Serokadan, Desa Abuan, Kabupaten Bangli, Bali, menjalani rapid test COVID-19 pada 30 April 2020 lalu. Namun, alat rapid test yang digunakan justru dipertanyakan akurasinya.

Kecurigaan ini muncul usai rapid test di Banjar Serokadan menunjukkan hasil positif mencapai 443 dari 2.640 warga. Alat rapid test tersebut lantas dicurigai telah memberikan hasil positif palsu false positive.

Menanggapi kecurigaan ini, penyedia alat rapid test tersebut pun buka suara. Menurut PT Kirana Jaya Lestari selaku penyedia alat tersebut, pihaknya telah mengecek adanya kemungkinan kesalahan teknis dan sementara menariknya dari peredaran.

"Pabrikan sudah memulai melakukan analisa terhadap laporan ini," demikian kutipan pernyataan perusahaan, dilansir laman PT Kirana Jaya Lestari pada Senin (11/5). Diketahui, alat rapid test yang digunakan di Banjar Serokadan tersebut berjenis IgG/IgM COVID-19 dari mereka VivaDiag dengan nomor Lot No. 3097 dan diimpor dari perusahaan VivaCheck Biotech.


PT Kirana Jaya Lestari sendiri merupakan agen tunggal penyalur produk VivaDiag di Indonesia. Perusahaan tersebut mengklaim bahwa produknya telah disetujui oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk bisa masuk ke Indonesia.

Selain itu, PT Kirana Jaya Lestari juga menyatakan telah memiliki Sertifikat Distribusi Alat Kesehatan (SDAK) dari Kementerian Kesehatan dan sertifikat CDAKB (Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik). Terkait alat rapid test, PT Kirana Jaya Lestari menegaskan bahwa hasilnya memang tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis virus corona.

PT Kirana Jaya Lestari menyebutkan bahwa pengguna alat tersebut harus benar-benar mematuhi cara penggunaan agar hasil bisa valid. "Pembacaan hasil harus dilakukan pada menit ke-15, pembacaan sesudah menit ke-15 bisa menghasilkan hasil yang tidak valid," demikian kutipan dokumen terkait tata cara penggunaan alat rapid test VivaDiag.

Di sisi lain, VivaCheck Biotech selaku produsen VivaDiag sendiri diketahui didirikan di Delaware, Amerika Serikat, dan memiliki pabrik di Hangzhou, Tiongkok. Meski demikian, produk VivaDiag sendiri tidak mendapat rekomendasi dari pemerintah Tiongkok. Terlepas dari hal tersebut, VivaDiag masih masuk dalam daftar rekomendasi RDT antibodi BNPB pada 21 April.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait